AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22266.17
2.52%
+547.11
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

143 Kasus BA.4 dan BA.5 Didominasi dari Jakarta, Simak Gejala Umumnya Ini

ECONOMICS
Muhammad Sukardi
Kamis, 23 Juni 2022 18:20 WIB
Per 23 Juni 2022, sudah ada 143 kasus BA.4 dan BA.5 dan DKI Jakarta mendominasi lokasi ditemukannya subvarian Omicron tersebut. 
Per 23 Juni 2022, sudah ada 143 kasus BA.4 dan BA.5 dan DKI Jakarta mendominasi lokasi ditemukannya subvarian Omicron tersebut.
Per 23 Juni 2022, sudah ada 143 kasus BA.4 dan BA.5 dan DKI Jakarta mendominasi lokasi ditemukannya subvarian Omicron tersebut.

IDXChannel - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluarkan data terbaru jumlah kasus BA.4 dan BA.5 di Indonesia. Per 23 Juni 2022, sudah ada 143 kasus BA.4 dan BA.5 dan DKI Jakarta mendominasi lokasi ditemukannya subvarian Omicron tersebut. 

Temuan kasus BA.4 di Indonesia sebanyak 21 kasus, sementara itu BA.5 lebih banyak dengan jumlah kasus yang telah teridentifikasi sebanyak 122 kasus. 

"DKI Jakarta menjadi lokasi terbanyak ditemukannya BA.4 dan BA.5. Ini mungkin dikarenakan surveilans di DKI Jakarta lebih aktif dibandingkan wilayah lain di Indonesia," terang Ahli Mikrobiologi Universitas Indonesia Prof Amin Soebandrio di webinar PB IDI, Kamis (23/6/2022). 

Secara lebih detail, Dokter Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso dr Erlina Burhan, Sp.P menjelaskan datanya sebagai berikut: 

#BA.4 (21 kasus)

#Lokasi identifikasi kasus BA.4: 

1. DKI Jakarta: 15 kasus (71%)

2. Jawa Barat: 2 kasus (10%)

3. Banten: 2 kasus (9%)

4. Jawa Tengah: 1 kasus (5%)

5. Bali: 1 kasus (5%)

#Kategori usia: 

1. 0-9 tahun (5%)

2. 20-29 tahun (25%)

3. 30-39 tahun (35%)

4. 40-49 tahun (15%)

5. 50-59 tahun (5%)

6. 60-69 tahun (5%)

7. 70-79 tahun (5%)

8. 80-89 tahun (5%)

#Kewarganegaraan

1. WNI: 19 kasus (90%)

2. WNA: 2 kasus (10%)

#Jenis kelamin

1. Laki-laki: 13 kasus (62%)

2. Perempuan: 8 kasus (38)

#Gejala 

1. Bergejala: 10 kasus (48%)

2. Tidak bergejala: 4 kasus (19%)

3. Dalam identifikasi: 7 kasus (33%)

#Dosis vaksin

1. Sudah divaksin dosis 2: 5 kasus (24%)

2. Sudah divaksin dosis 3: 13 kasus (62%)

3. Sudah divaksin dosis 4: 1 kasus (5%)

3. Belum divaksin: 1 kasus (5%)

5. Dalam identifikasi: 1 kasus (4%)

#Hospitalisasi 

1. Rawat inap rumah sakit: 2 kasus (9%)

2. Isolasi mandiri: 10 kasus (48%)

3. Dalam identifikasi: 9 kasus (43%)

#Komorbid

1. Tidak ada: 11 kasus (52%) 

2. Dalam identifikasi: 10 kasus (48%)

#BA.5 (122 kasus)

#Lokasi identifikasi kasus BA.5: 

1. DKI Jakarta: 71 kasus (58%)

2. Jawa Barat: 21 kasus (17%)

3. Banten: 19 kasus (16%)

4. Jawa Tengah: 1 kasus (1%)

5. Bali: 3 kasus (2%)

6. Yogyakarta: 1 kasus (15)

7. PPLN: 3 kasus (2%)

8. Dalam identifikasi: 3 kasus (3%)

#Kategori usia: 

1. 0-9 tahun (7%)

2. 10-19 tahun (15%)

3. 20-29 tahun (19%)

4. 30-39 tahun (22%)

5. 40-49 tahun (14%)

6. 50-59 tahun (15%)

7. 60-69 tahun (5%)

8. 70-79 tahun (1%)

9. 80-89 tahun (2%)

#Kewarganegaraan

1. WNI: 112 kasus (92%)

2. WNA: 10 kasus (18%)

#Jenis kelamin

1. Laki-laki: 13 kasus (62%)

2. Perempuan: 8 kasus (38)

#Gejala 

1. Bergejala: 77 kasus (63%)

2. Tidak bergejala: 7 kasus (6%)

3. Dalam identifikasi: 38 kasus (31%)

#Dosis vaksin

1. Sudah divaksin dosis 1: 4 kasus (3%)

2. Sudah divaksin dosis 2: 28 kasus (23%)

3. Sudah divaksin dosis 3: 62 kasus (51%)

4. Sudah divaksin dosis 4: 1 kasus (1%)

4. Belum divaksin: 12 kasus (10%)

5. Dalam identifikasi: 15 kasus (12%)

#Hospitalisasi 

1. Rawat inap rumah sakit: (4%)

2. Isolasi mandiri: (60%)

3. Dalam identifikasi: (36%)

#Komorbid

1. Stroke: 1 kasus (1%)

2. Diabetes melitus: 4 kasus (3%)

3. Pneumonia: 1 kasus (1%)

4. Hipertensi: 4 kasus (3%)

5. Tidak ada komorbid: 62 kasus (50%)

6. Dalam identifikasi: 53 kasus (42%)

"Dari data-data tersebut, bisa dijelaskan kalau paparan BA.4 dan BA.5 tidak jauh berbeda efeknya. Kedua subvarian Omicron tersebut menyerang orang dengan usia dewasa produktif dengan kebanyakan dari mereka yang menjalani isolasi mandiri," terang dr Erlina.

Bagaimana dengan gejala terbanyak yang dilaporkan terkait infeksi BA.4 dan BA.5 ini? 

Data Kementerian Kesehatan yang disampaikan dr Erlina menemukan bahwa ada kemiripan di antara gejala BA.4 dan BA.5 dari 143 kasus yang sudah teridentifikasi. Ketiga gejala yang paling umum terjadi adalah batuk kering, nyeri tenggorokan, pilek dan flu. 

Berikut data selengkapnya: 

#Gejala BA.4:

1. Batuk (30%)

2. Demam (25%)

3. Polek (19%)

4. Nyeri tenggorokan (14%)

5. Sakit kepala (6%)

6. Mual muntah (3%)

7. Sesak napas (2%)

8. Anosmia (1%)

#Gejala BA.5:

1. Batuk (38%)

2. Demam (29%)

3. Nyeri tenggorokan (24%)

4. Pilek dan flu (9%)

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD