AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19496.09
-2.54%
-507.35
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
15264.79
-0.27%
-41.01
Kurs
HKD/IDR 1,894
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

1.500 SPBU Pertamina Akan Gunakan PLTS Atap di 2022

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Senin, 20 Desember 2021 17:24 WIB
Pertamina NRE menargetkan pemasangan PLTS Atap di SPBU tahun 2022 diperluas hingga meningkat 10 kali lipat atau mencapai sekitar 1.500 titik.
Pertamina NRE menargetkan pemasangan PLTS Atap di SPBU tahun 2022 diperluas hingga meningkat 10 kali lipat atau mencapai sekitar 1.500 titik. (Foto: MNC Media)
Pertamina NRE menargetkan pemasangan PLTS Atap di SPBU tahun 2022 diperluas hingga meningkat 10 kali lipat atau mencapai sekitar 1.500 titik. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pertamina melalui subholding Power & New Renewable Energy (Pertamina NRE) menargetkan pemasangan PLTS Atap di SPBU tahun 2022 diperluas hingga meningkat 10 kali lipat atau mencapai sekitar 1.500 titik dengan total kapasitas terpasang mencapai 9 MWp.

Pertamina memiliki target untuk menyediakan PLTS di 5.000 SPBU Pertamina. Saat ini PLTS Atap yang telah terpasang mencapai lebih dari 125 titik.

Adapun persebarannya mencakup wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Tahun depan targetnya mencapai 1.500 titik.

"Pemasangan PLTS Atap di SPBU Pertamina kami kebut agar target 5.000 SPBU dapat segera terwujud. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk komitmen kami mengawal transisi energi. Dengan pemasangan PLTS Atap di SPBU Pertamina yang jumlahnya ribuan kami berharap dapat mendorong percepatan transisi energi," ujar Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi dalam keterangan tertulis, Senin (20/12/2021).

Total 1.500 PLTS Atap yang ditargetkan terpasang tahun depan akan tersebar lebih luas di wilayah nusantara, termasuk Bali karena merupakan salah satu wilayah yang sangat berpotensi untuk pengembangan PLTS. 

Menurut data Institute of Essential Services Reform (IESR), potensi teknis PLTS di Bali mencapai 26,4 GWp. Ditambah lagi, dengan terbitnya Peraturan Gubernur nomor 45 tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, pemerintah daerah Bali semakin gencar mendorong pemanfaatan energi bersih termasuk PLTS. 

"Ambisi untuk menghijaukan SPBU adalah salah satu program utama Pertamina yang dilaksanakan oleh Pertamina Patra Niaga sebagai subholding Commercial & Trading. SPBU yang telah terkategori hijau akan mendapatkan predikat sebagai Green Energy Station (GES)," jelas Dicky.

Program ini mencakup antara lain penyediaan BBM ramah lingkungan, penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik untuk Umum (SPKLU) ataupun battery swapping station (BSS), penggunaan PLTS sebagai sumber energi listrik, serta digitalisasi layanan. 

SPKLU telah tersedia di beberapa GES, dan dalam waktu dekat BSS juga akan tersedia. Pertamina Patra Niaga belum lama ini bersinergi bersama Electrum - perusahaan patungan Gojek dan TBS, menggandeng pionir kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua di Indonesia, GESITS serta brand KBLBB roda dua Taiwan yaitu Gogoro, dalam mengembangkan infrastruktur hilir bagi motor listrik yakni pilot komersial BSS. Sinergi ini merupakan bentuk dukungan dan kontribusi percepatan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Kontribusi percepatan ekosistem kendaraan listrik juga ditunjukkan Pertamina NRE yang akan berpartisipasi dalam pengembangan industri baterai terintegrasi dari hulu ke hilir dengan target kapasitas produksi 140 GWh pada tahun 2029 yang dikelola oleh PT Industri Baterai Indonesia. Pengembangan EV battery merupakan salah satu masa depan bisnis Pertamina NRE dan menjadi komitmen utama manajemen untuk mewujudkannya. 

“Pertamina mendukung transisi energi dari penggunaan energi fosil pada transportasi menjadi energi listrik yang lebih ramah lingkungan. Hal ini selaras dengan target pemerintah mewujudkan net zero emission tahun 2060,” ujar Dicky. 

Ia menambahkan bahwa saat ini pengelolaan bisnis yang hanya mengutamakan profit semata tidak lagi relevan. "Dalam mengelola bisnis harus mengimplementasikan aspek environmental, social, and governance (ESG) agar terwujud keberlanjutan," tandasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD