sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

307 Ton Buah Pisang, Nanas, dan Semangka Mampu Dihasilkan dari Lahan Terdegradasi

Economics editor Dhera Arizona Pratiwi
23/08/2026 08:00 WIB
Lahan terdegradasi berpasir di Tangkiling, Kalimantan Tengah, yang bertahun-tahun dianggap 'lahan mati' kini berhasil disulap menjadi lahan pertanian produktif.
307 Ton Buah Pisang, Nanas, dan Semangka Mampu Dihasilkan dari Lahan Terdegradasi. (Foto Istimewa)
307 Ton Buah Pisang, Nanas, dan Semangka Mampu Dihasilkan dari Lahan Terdegradasi. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Lahan terdegradasi berpasir di Tangkiling, Kalimantan Tengah, yang bertahun-tahun dianggap 'lahan mati' kini berhasil disulap menjadi lahan pertanian produktif. Lewat program restorasi tanah berbasis keberlanjutan, kawasan ini telah menghasilkan lebih dari 307 ribu kilogram (kg) atau 307 ton komoditas pisang, nanas, dan semangka.

Perubahan signifikan ini diinisiasi oleh PT Bumibaru Indonesia Jaya sejak September 2023. Saat pertama kali dikelola, kondisi tanah tergolong sangat kritis dengan kandungan pasir mencapai 94 persen serta tingkat keasaman (pH) tinggi di angka 4,40 yang membuat tanah sulit menyimpan air.

CEO Bumibaru Ramavito Mountaino menyampaikan, dalam mencapai panen komoditas tersebut, Bumibaru memperbaiki tanahnya terlebih dulu. Sisa panen seperti batang pisang, daun, dan buah yang tidak layak jual kemudian diolah kembali dan dikembalikan ke tanah sebagai sumber nutrisi alami.

"Proses ini lalu dikombinasikan dengan mineral, bahan organik, dan bakteri untuk menghidupkan kembali tanah yang sudah lama tidak produktif," katanya dalam keterangan resmi, Minggu (23/8/2026).

Hasilnya mulai terlihat sekitar delapan bulan kemudian. Tingkat keasaman tanah membaik dari 4,40 menjadi 6,01, dan tanaman mulai tumbuh dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 94 persen.

Ramavito menegaskan, perubahan ini terasa langsung bagi masyarakat berkat keterlibatan peran mereka di dalamnya. Kegiatan budi daya dijalankan bersama petani lokal, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen.

Sebab, lahan yang dulu kosong kini menjadi tempat bekerja, dan hasil panennya membuka aliran pendapatan yang sebelumnya tidak ada di kawasan itu.

Bagi warga sekitar, ini berarti kesempatan bekerja tanpa harus mencari peluang di luar daerah. Mereka juga mendapat pengalaman menggarap lahan berkarakter sulit, keterampilan yang bisa mereka terapkan kembali di kemudian hari.

"Di lahan pasir yang biasanya cuma bisa ditumbuhi tanaman asli, kami berhasil menanam tanaman produktif yang benar-benar menghasilkan," ujarnya.

Prinsip yang sama kini dibawa Bumibaru untuk membantu memulihkan lahan-lahan kritis lainnya, mulai dari lahan terdegradasi, lahan tidur, hingga perkebunan yang sudah berhenti produktif.

"Harapannya, semakin banyak lahan yang dulu dianggap tidak berguna bisa kembali hidup dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya," kata Ramavito.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2
Berita Rekomendasi

Berita Terkait
Advertisement
Advertisement