Hasilnya mulai terlihat sekitar delapan bulan kemudian. Tingkat keasaman tanah membaik dari 4,40 menjadi 6,01, dan tanaman mulai tumbuh dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 94 persen.
Ramavito menegaskan, perubahan ini terasa langsung bagi masyarakat berkat keterlibatan peran mereka di dalamnya. Kegiatan budi daya dijalankan bersama petani lokal, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen.
Sebab, lahan yang dulu kosong kini menjadi tempat bekerja, dan hasil panennya membuka aliran pendapatan yang sebelumnya tidak ada di kawasan itu.
Bagi warga sekitar, ini berarti kesempatan bekerja tanpa harus mencari peluang di luar daerah. Mereka juga mendapat pengalaman menggarap lahan berkarakter sulit, keterampilan yang bisa mereka terapkan kembali di kemudian hari.
"Di lahan pasir yang biasanya cuma bisa ditumbuhi tanaman asli, kami berhasil menanam tanaman produktif yang benar-benar menghasilkan," ujarnya.
Prinsip yang sama kini dibawa Bumibaru untuk membantu memulihkan lahan-lahan kritis lainnya, mulai dari lahan terdegradasi, lahan tidur, hingga perkebunan yang sudah berhenti produktif.
"Harapannya, semakin banyak lahan yang dulu dianggap tidak berguna bisa kembali hidup dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya," kata Ramavito.
(Dhera Arizona)