AALI
9975
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1450
ACES
1305
ACST
230
ACST-R
0
ADES
2950
ADHI
1025
ADMF
7700
ADMG
210
ADRO
1700
AGAR
340
AGII
1600
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
65
AIMS
486
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
860
AKRA
3970
AKSI
416
ALDO
1020
ALKA
244
ALMI
246
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/11/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
497.28
-2.19%
-11.12
IHSG
6533.93
-1.13%
-74.36
LQ45
930.98
-2.07%
-19.70
HSI
-74.94
-100.31%
-23927.18
N225
346.43
-98.78%
-27937.49
NYSE
59.11
-99.64%
-16565.76
Kurs
HKD/IDR 1,834
USD/IDR 14,318
Emas
825,609 / gram

Airlangga Ungkap Indonesia-Malaysia Bakal Perkuat Kerja Sama Sektor Kelapa Sawit

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Senin, 25 Oktober 2021 20:35 WIB
Menko Airlangga Hartarto menekankan  komitmen pemerintah untuk terus bekerja sama dengan Malaysia terkait kebijakan kelapa sawit. 
Airlangga Ungkap Indonesia-Malaysia Bakal Perkuat Kerja Sama Sektor Kelapa Sawit (Dok.MNC Media)
Airlangga Ungkap Indonesia-Malaysia Bakal Perkuat Kerja Sama Sektor Kelapa Sawit (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan  komitmen Pemerintah Indonesia untuk terus bekerja sama dengan Malaysia terkait kebijakan kelapa sawit

“Saya ingin menegaskan kembali komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk terus bekerja sama dengan Malaysia. Saya percaya bahwa terlepas dari pandemi yang sedang berlangsung, ada banyak peluang yang harus dimanfaatkan kedua negara di tahun-tahun mendatang,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (25/10/2021).

Airlangga mengatakan bagi Indonesia, Malaysia merupakan salah satu mitra ekonomi utama dalam hal investasi dan perdagangan. Selama semester I tahun 2021, Penanaman Modal Asing (PMA) yang berasal dari Malaysia mencapai USD706,8 juta dan tersebar di 1.324 proyek. Dari sisi perdagangan barang, volume perdagangan bilateral antar negara telah mencapai USD15,03 juta pada tahun 2020 dan USD13,43 juta selama Januari hingga Oktober 2021. 

“Hal tersebut menunjukkan intensnya hubungan bilateral kedua negara,” katanya.

Airlangga menyampaikan Indonesia sebagai Ketua Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mengajak negara-negara produsen kelapa sawit mengantisipasi kemungkinan terjadinya siklus harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) melalui peningkatan konsumsi domestik sebagai alat manajemen permintaan. Pengelolaan harga minyak sawit berkelanjutan dapat dicapai dengan melaksanakan program mandat B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia. Strategi ini penting untuk menyeimbangkan pasokan dengan permintaan, yang akan menjaga harga CPO global.

“Hal penting yang ingin kami tekankan adalah pentingnya negara-negara anggota CPOPC mengintensifkan upaya untuk memastikan harga minyak sawit berkelanjutan. Kami menggarisbawahi tren positif atas pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan minyak sawit secara umum,” jelas Airlangga.

Airlangga juga menyampaikan Indonesia mengapresiasi pembentukan CPOPC Scientific Committee untuk fokus pada penyusunan proposal penelitian yang tepat, mengkaji proposal penelitian, mendorong kegiatan penelitian dan pengembangan guna memberikan temuan penelitian dalam memperkaya pengetahuan terkait sektor kelapa sawit. 

“Kami berharap komite dapat bekerja untuk kepentingan terbaik negara-negara anggota termasuk upaya melawan kampanye negatif terhadap minyak sawit,” ungkap Airlangga.

Terkait maraknya kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit, sebagai negara penghasil kelapa sawit, Airlangga mengatakan, Indonesia-Malaysia perlu melakukan kampanye positif terhadap kelapa sawit secara efektif, efisien dan tepat sasaran. Indonesia mengapresiasi kemajuan program Countering Anti Palm Oil Campaign yang dilakukan CPOPC berdasarkan persetujuan negara anggota (Indonesia-Malaysia).

“Program-program ini termasuk kampanye advokasi di Uni Eropa, kampanye media sosial di negara-negara anggota, serta strategi komunikasi dan promosi di negara-negara konsumen minyak sawit,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, program kampanye positif diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan minyak nabati lainnya, tidak hanya fokus pada kelapa sawit. 

"Publikasi kontribusi minyak nabati untuk memenuhi Sustainable Development Goals (SDGs) harus lebih sering disebarluaskan,” pungkasnya.


(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD