AALI
9675
ABBA
314
ABDA
6975
ABMM
1360
ACES
1260
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3450
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2280
AGAR
360
AGII
1410
AGRO
1320
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
68
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1075
AKRA
735
AKSI
660
ALDO
1405
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
274
Market Watch
Last updated : 2022/01/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.18
0.2%
+0.99
IHSG
6645.51
0.52%
+34.35
LQ45
949.77
0.29%
+2.75
HSI
23550.08
-1.08%
-256.92
N225
26717.34
2.09%
+547.04
NYSE
0.00
-100%
-16236.51
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,364
Emas
829,485 / gram

Akses BBM dan EBT Masih Rendah, Skor Indeks Ketahanan Energi Indonesia Masih 6,57

ECONOMICS
Athika Rahma
Minggu, 28 November 2021 11:56 WIB
Seluruh negara di dunia mulai melakukan transisi energi demi mewujudkan ketahanan energi di masa yang akan datang, termasuk Indonesia.
Seluruh negara di dunia mulai melakukan transisi energi demi mewujudkan ketahanan energi di masa yang akan datang, termasuk Indonesia.  (Foto: MNC Media)
Seluruh negara di dunia mulai melakukan transisi energi demi mewujudkan ketahanan energi di masa yang akan datang, termasuk Indonesia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Seluruh negara di dunia mulai melakukan transisi energi demi mewujudkan ketahanan energi di masa yang akan datang, termasuk Indonesia. Penggunaan energi fosil akan digantikan dengan pemanfaatan energi terbarukan yang sumbernya tidak akan pernah habis.

Lantas, apakah Indonesia sudah memiliki ketahanan energi saat ini? Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto membeberkan, skor indeks ketahanan energi Indonesia berada di angka 6,57.

"Ada penguatan indeks ketahanan energi nasional dari tahu ke tahun. Saat ini, indeks ketahanan energi nasional berada di angka 6,57 atau masuk kondisi tahan (6 sampai 7,99)," ujar Djoko dalam keterangan resmi Kementerian ESDM, Minggu (28/11/2021).

Djoko mengungkap, ada beberapa alasan ketahanan energi Indonesia belum mencapai nilai sangat tahan. Aspek accessibility dan acceptability energi di Indonesia dinilai masih sangat kurang.

"Dua aspek ini masih sangat kurang, meskipun pemerintah terus berupaya membangun infrastruktur gas, juga BBM melalui program BBM satu harga, kita membangun SPBU kecil di daerah 3T. Sedangkan untuk aspek acceptability ini terkait dengan lingkungan," kata Djoko.

Terkait aspek acceptability , Djoko menyampaikan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia pada 2020 baru 11,2%. Namun angka ini sudah cukup meningkat dibandingkan 2015 yang sebesar 4%.

"Kita menuju 23% di 2025. Artinya kalau kita melakukan business as usual, mudah-mudahan ini bisa tercapai, dan di 2050 31%, kemudian di 2060 di mana kita punya target net zero emission, mudah-mudahan EBT sudah di atas 50%," harapnya.

Pengukuran ketahanan energi sendiri menggunakan aspek 4A (availability, affordability, accessibility, dan acceptability) dan metode pembobotan menggunakan AHP (analisa hierarchy process).

Aspek availability adalah ketersediaan sumber energi dan energi baik dari domestik maupun luar negeri. Selanjutnya aspek affordability yaitu keterjangkauan biaya investasi energi, mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, hingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energi.
Kemudian aspek accesibility adalah kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur jaringan energi, termasuk tantangan geografik dan geopolitik. Sedangkan aspek acceptability adalah penggunaan energi yang peduli lingkungan (darat, laut dan udara) termasuk penerimaan masyarakat.

"Dukungan transisi energi secara umum dapat dilakukan melalui regulasi harga gas sebesar USD 6/MMBTU, Rancangan Undang-Undang EBT dan Rancangan Perpres Harga EBT. Tak hanya itu, terdapat beberapa dukungan lain dari pemerintah, seperti penyusunan Rancangan Perpres Cadangan Penyangga Energi, zero flaring gas, RUPTL 2021-2030, serta PLTS Atap," ujar Djoko. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD