sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor dari Malaysia hingga Rusia

Economics editor Anggie Ariesta
21/04/2026 05:00 WIB
Pemerintah mulai memetakan strategi untuk mengamankan pasokan plastik kemasan pangan nasional yang terancam akibat krisis bahan baku global. 
Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor dari Malaysia hingga Rusia. Foto: iNews Media Group.
Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor dari Malaysia hingga Rusia. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Pemerintah mulai memetakan strategi untuk mengamankan pasokan plastik kemasan pangan nasional yang terancam akibat krisis bahan baku global. 

Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan di Iran, telah mengganggu ketersediaan nafta sebagai bahan baku utama plastik yang berasal dari minyak bumi.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan salah satu langkah yang sedang dijajaki adalah melakukan impor plastik kemasan dari Malaysia. Rencana ini muncul di tengah momentum pemerintah yang juga sedang menjajaki peluang ekspor beras ke negara tetangga tersebut.

“Plastik ternyata peluang (impor) dari Malaysia. Tawaran itu ada, kita lagi nyari peluang (impor) ya, kita kan bahan bakunya (nafta) dari minyak bumi," ujar Sam Herodian dalam media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Senin (20/4/2026).

Penjajakan impor ini tidak hanya menyasar plastik kemasan ritel 5 kilogram, tetapi juga teknologi penyimpanan yang lebih canggih seperti hermetic bag. Teknologi ini diklaim mampu menjaga kualitas beras dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa bantuan bahan kimia.

“Bahkan bukan hanya plastik untuk kemasan yang 5 kilogram, termasuk namanya hermetic bag untuk bisa menyimpan beras sampai 2-3 tahun tanpa harus dikasih obat dan seterusnya,” ujar dia.

Meski demikian, Sam menegaskan proses ini masih dalam tahap awal. Pemerintah tetap membuka pintu bagi negara produsen lain agar tidak bergantung pada satu sumber saja.

Senada dengan hal tersebut, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa mengakui adanya guncangan ekonomi politik yang mulai berdampak pada industri pengemasan di Indonesia. Bapanas telah melakukan simulasi kasar terkait potensi kenaikan harga pangan jika biaya produksi plastik melonjak 10 persen.

"Di beras itu hampir sekitar Rp300 per kilogram (kg). Tapi di gula, relatif lebih sedikit, sekitar Rp100-150an (per kg). Itu pun paling kasar," kata Ketut.

Ketut menekankan bahwa pelaku usaha di dalam negeri tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi ini. Saat ini, para produsen bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang giat mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara-negara lain, termasuk Rusia.

"Langkah dari pelaku usaha kan nggak diam, dia akan mencari, dan sudah akan mencari peluang-peluang apakah di seberang, apakah dari Rusia, apakah dari produsen-produsen pasokan plastik itu. Itulah sebenarnya sumber-sumber pasokan plastik yang akan hitung," ujarnya.

Pemerintah berharap upaya diversifikasi sumber pasokan ini dapat segera diselesaikan dalam waktu dekat. 

"Langkah antisipatif ini diambil agar fluktuasi biaya logistik dan pengemasan tidak dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga pangan di pasar," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement