sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

AS Sanksi Kilang Minyak China Pembeli Minyak Iran

Economics editor Nia Deviyana
25/04/2026 12:58 WIB
Langkah ini merupakan realisasi dari ancaman pemerintahan Trump untuk menjatuhkan sanksi sekunder terhadap perusahaan dan negara yang berbisnis dengan Iran. 
AS Sanksi Kilang Minyak China Pembeli Minyak Iran. Foto: iNews Media Group.
AS Sanksi Kilang Minyak China Pembeli Minyak Iran. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan sanksi ekonomi terhadap sebuah kilang minyak independen yang berbasis di China, serta sekitar 40 perusahaan pelayaran, dan kapal tanker yang terlibat dalam pengangkutan minyak Iran.

Langkah ini merupakan realisasi dari ancaman pemerintahan Trump untuk menjatuhkan sanksi sekunder terhadap perusahaan dan negara yang berbisnis dengan Iran. 

Melansir Associated Press, Sabtu (25/4/2026), sanksi ini muncul hanya beberapa minggu sebelum Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di China.

Termasuk yang dikenakan sanksi adalah fasilitas milik Hengli Petrochemical di kota pelabuhan Dalian, yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400.000 barel minyak mentah per hari, menjadikannya salah satu kilang independen terbesar di China.

Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa Hengli telah menerima pengiriman minyak mentah Iran sejak 2023 dan menghasilkan ratusan juta dolar bagi militer Iran.

Kelompok advokasi United Against Nuclear Iran mengatakan pada Februari 2025 bahwa Hengli adalah salah satu dari puluhan pembeli minyak Iran di China.

China merupakan pembeli terbesar minyak Iran, mengimpor sekitar 80 persen hingga 90 persen minyak Iran sebelum perang AS-Israel dengan Iran pecah. 

Minyak tersebut dituding diangkut oleh kapal-kapal ‘bayangan’ yang menyamarkan asal-usulnya, sehingga masuk ke China seolah-olah berasal dari negara lain seperti Malaysia, lalu biasanya dibeli oleh kilang-kilang kecil yang dikenal sebagai ‘teapot refineries’.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa salah satu syarat untuk mengakhiri perang adalah pencabutan sanksi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Jumat bahwa lembaganya akan terus mempersempit jaringan kapal, perantara, dan pembeli yang digunakan Iran untuk menyalurkan minyaknya ke pasar global.

Awal bulan ini, departemen Bessent mengirim surat ke lembaga keuangan di China, Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder jika mereka tetap berbisnis dengan Iran serta menuduh negara-negara tersebut membiarkan aktivitas ilegal Iran mengalir melalui sistem keuangan mereka.

Sanksi ini terjadi saat perdagangan energi global sedang kacau akibat perang di sekitar Teluk Persia yang menghambat pengiriman minyak dan gas alam, sehingga menyebabkan harga melonjak.

Departemen Keuangan AS juga mencoba meredam dampak kenaikan harga minyak dengan mengeluarkan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia serta pengecualian satu kali untuk minyak Iran yang sudah berada di laut.

Associated Press masih berupaya menghubungi pejabat China untuk mendapatkan tanggapan terkait sanksi ini.

China sebelumnya tidak setuju dengan sanksi sepihak AS, namun perusahaan besar dan bank di negara tersebut tetap mematuhi karena mereka sangat bergantung pada sistem keuangan global yang didominasi AS.

Sebelumnya, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, mengatakan bahwa penggunaan sanksi tersebut merusak tatanan dan aturan perdagangan internasional, mengganggu pertukaran ekonomi dan perdagangan normal, serta melanggar hak dan kepentingan sah perusahaan dan individu China.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement