Harga minyak global telah melonjak 40 hingga 50 persen setelah Iran memblokade Selat Hormuz dan menyerang industri energi dan perkapalan di Teluk, yang merupakan respons terhadap serangan AS-Israel.
Hal ini memicu kekhawatiran akan guncangan pada sistem perdagangan global, yang sudah tertekan oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump serta fragmentasi rantai pasokan sejak pandemi Covid-19 dan perang Rusia di Ukraina.
Stiglitz, yang bersama-sama memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 2001 untuk analisisnya tentang pasar dengan informasi asimetris, mengatakan AS adalah negara yang paling berisiko mengalami stagflasi, seperti yang terjadi selama guncangan harga minyak pada 1970-an.
"Risiko stagflasi tampaknya cukup tinggi bagi AS," kata profesor di Universitas Columbia di New York tersebut.
Situasi di tempat lain tidak begitu jelas, kata Stiglitz, yang menjabat sebagai kepala ekonom di Bank Dunia pada akhir 1990-an setelah menjadi ketua dewan penasihat ekonomi mantan presiden AS Bill Clinton. (Wahyu Dwi Anggoro)