Meski demikian, Bahlil menegaskan rencana bea keluar masih dalam tahap perhitungan dan pembahasan bersama Kementerian Keuangan. Pemerintah ingin memastikan skema yang diterapkan tidak membebani industri, terutama mengingat karakteristik komoditas yang beragam.
Untuk batu bara, misalnya, mayoritas produksi nasional merupakan kalori rendah yang memiliki harga lebih murah dibandingkan batu bara kalori tinggi. Karena itu, penerapan bea keluar harus dirancang hati-hati agar tidak menekan daya saing ekspor.
“Kita ingin meningkatkan penerimaan negara, tapi juga harus hati-hati dalam penerapan pajak ekspor. Sampai tanggal 1 belum ada kebijakan itu, karena Menteri Keuangan dan ESDM akan membahas teknis,” ujarnya.
Selain bea keluar, pemerintah juga berencana menaikkan harga mineral acuan (HMA) nikel sebagai bagian dari upaya menjaga nilai komoditas di pasar global.