Lebih jauh, Bahlil mengatakan salah satu langkah penanganan yang dilakukan terkait potensi gangguan pasokan listrik akibat El Nino ini dengan mengganti pasokan listrik rumah tangga menggunakan pembangkit lain. Langkah ini utamanya dilakukan untuk wilayah Sulawesi Selatan yang terdampak kekeringan.
"Kita sudah mencari solusi adalah mengganti sementara dengan pembangkit yang lain," kata Bahlil.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menambahkan, saat ini memang terjadi penyusutan volume debit air di sungai-sungai yang berada di wilayah Kalimantan terutama.
Sebagai konversi sumber kelistrikan akibat terjadinya gangguan pasokan listrik dari PLTA, Eniya mengatakan justru pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) punya produksi yang lebih meningkat saat kemarau datang. Sebab angin bertiup lebih kencang untuk memutar turbin dan mampu memproduksi listrik lebih besar.
"Karena pada saat El Nino, justru angin itu 24 jam bertiup. Nah, alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto. Dua-duanya saya visit kemarin. Semua 24 jam full capacity," kata dia.