Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi berada di kisaran Rp16 ribu per liter. Dengan kondisi tersebut, penggunaan bioetanol dinilai masih kompetitif, sehingga belum membutuhkan dukungan dana kompensasi.
"Kalau etanolnya di Rp11 ribu kemudian harga bensin sekarang Rp16 ribu, berarti kan ada selisih. Itu mungkin tidak ada dana talangan," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, ditulis Selasa (4/8/2026).
Namun, Bahlil menuturkan, skema insentif tetap perlu disiapkan apabila harga minyak dunia turun dan membuat harga BBM berada di bawah harga bioetanol. Dalam kondisi tersebut, pemerintah akan menyiapkan formulasi untuk menutup selisih harga agar program pencampuran bioetanol tetap berjalan.
"Tetapi ketika harga minyak dunia turun, contoh menjadi Rp9 ribu atau Rp10 ribu, etanolnya Rp11 ribu, berarti akan ada selisih. Nah, ini yang kita akan membentuk, membuat satu formulasi yang baik untuk kepentingan industri, petani, dan negara," katanya.