IDXChannel - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat tren penurunan harga sejumlah komoditas pangan dalam sepekan Ramadan 2026.
Berdasarkan 28.270 kegiatan pemantauan yang dilakukan di pasar rakyat, ritel modern, distributor hingga produsen, terjadi koreksi harga pada sejumlah komoditas utama.
Di wilayah barat Indonesia, harga gula konsumsi turun dari Rp17.983 per kilogram pada awal Februari menjadi Rp17.525 per kilogram per 25 Februari 2026 atau turun sekitar 2,5 persen dan semakin mendekati harga acuan.
Harga daging kerbau beku juga mengalami penurunan signifikan dari Rp105.349 per kilogram pada pertengahan Februari menjadi Rp95.194 per kilogram pada akhir periode pemantauan.
Sementara itu, harga beras di sejumlah zona menunjukkan tren penurunan dan semakin stabil dibanding awal Februari 2026. Beras program SPHP bahkan berhasil ditekan hingga berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Komoditas cabai rawit merah juga tercatat melandai dengan rata-rata harga nasional di tingkat konsumen mencapai Rp66.920 per kilogram, mencerminkan membaiknya pasokan serta kelancaran distribusi antarwilayah.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menegaskan bahwa penguatan pengawasan menjadi kunci dalam meredam gejolak harga dan memastikan distribusi berjalan lancar.
“Langkah pengawasan yang masif ini bertujuan memastikan pasokan tersedia, distribusi tidak terhambat, dan harga tetap terkendali. Hasil pemantauan menunjukkan kondisi harga mulai stabil baik di tingkat distributor maupun di pasar,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Jumat (27/2/2026).
Dia menjelaskan, pengawasan menyeluruh turut mendorong penyesuaian harga di tingkat produsen. Ketersediaan pasokan yang lebih baik, mulai berlangsungnya panen di sejumlah sentra produksi, serta distribusi yang lancar membuat tekanan harga di hulu mereda.
Kondisi tersebut berdampak pada harga jual dari sentra produksi yang lebih terkendali dan mendukung stabilisasi di tingkat konsumen.
Di sisi hilir, harga di pasar rakyat dan jaringan ritel disebut semakin stabil dengan rentang fluktuasi yang lebih sempit dibanding awal bulan.
Intervensi distribusi, koordinasi pengisian stok, serta pengawasan terhadap pelaku usaha dinilai efektif meredam lonjakan harga dan menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.
(DESI ANGRIANI)