"Data menunjukkan adanya jendela peluang yang sangat terkonsentrasi di pekan-pekan terakhir, diikuti oleh jeda yang dapat diprediksi saat Idulfitri, bisnis yang menyelaraskan rantai pasok, promosi dan infrastruktur akan memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan," ujar Asia Pacific Principal Economist Visa Simon Baptist.
Secara historis, volume transaksi pada hari Idulfitri turun sekitar 30-40 persen di bawah rata-rata harian Ramadan karena konsumen memprioritaskan ibadah dan keluarga. Namun biasanya terjadi rebound singkat beberapa hari setelah Idulfitri ketika aktivitas belanja kembali normal.
(DESI ANGRIANI/ Nasywaa)