Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa langkah mendatangkan tabung CNG dari luar ini murni dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pada fase awal saja. Pasalnya, pemerintah sudah menargetkan adanya proses transfer teknologi agar kemasan gas tersebut kelak bisa diproduksi secara mandiri di dalam negeri.
Lebih lanjut Laode merinci spesifikasi kemasan yang dipesan merupakan tabung tipe 4. Berbeda dengan tabung baja konvensional pada umumnya, varian ini diklaim jauh lebih ringan karena materialnya tersusun dari bahan polimer yang diperkuat dengan lapisan komposit.
"Jadi tabung ini kan kita bikin tipe 4. Ini memang belum ada di dunia untuk setara elpiji 3 kg ya. Yang ada yang setara elpiji 12 kg yang sudah dipakai sekarang itu," katanya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan proses konversi LPG ke CNG di tabung 3 kilogram telah memasuki tahap uji coba yang diperkirakan rampung paling lambat tiga bulan ke depan.
Bahlil menekankan konversi ke CNG menjadi cara pemerintah perlahan keluar dari ketergantungan impor sumber daya yang selama ini digunakan untuk kepentingan produk LPG hingga jutaan ton. Sumber daya yang digunakan sebagai basis produk CNG disebut melimpah di Indonesia.
"Ketika gejolak geopolitik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kami merumuskan alternatif lain. Apalagi kami baru menemukan gas di Kalimantan Timur. Nah ini sebagian besar kami bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG," kata Bahlil.
(Nur Ichsan Yuniarto)