Riefky mengingatkan bahwa tantangan belum berakhir karena siklus musiman akan segera tiba. “Ke depan tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.
Tekanan tidak hanya datang dari sektor riil, tapi juga pasar keuangan. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif serta isu kelayakan investasi dari MSCI memicu kepanikan investor. Tercatat, arus modal keluar dari bursa saham mencapai USD1 miliar, sedangkan imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun merangkak naik ke level 6,40 persen.
“Isu kredibilitas kebijakan dan kapasitas institusi menjadi sorotan. Pasar merespons sangat cepat terhadap persepsi risiko,” kata Riefky.
Meski rupiah relatif terjaga berkat intervensi aktif bank sentral, cadangan devisa Januari 2026 tercatat menyusut menjadi USD154,6 miliar. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, BI diharapkan tetap fokus pada mandat stabilitas nilai tukar daripada ambisi ekspansi ekonomi. Menjaga BI Rate di angka 4,75 persen dianggap sebagai komitmen nyata dalam menjaga stabilitas fiskal dan moneter.
“Yang juga tidak kalah penting, Bank Indonesia perlu terus menunjukkan bahwa independensinya tetap terjaga untuk memulihkan kepercayaan investor,” ujar Riefky.
(Rahmat Fiansyah)