Berbeda dengan survei yang hanya mengandalkan teknik sampling atau perwakilan populasi, sensus ini menjangkau seluruh pelaku usaha mulai dari pasar tradisional hingga pedagang keliling. BPS menjamin bahwa seluruh data individu yang diberikan oleh masyarakat akan dijaga kerahasiaannya dengan sangat ketat dan tidak akan disalahgunakan.
Petugas lapangan akan mendatangi setiap rumah tangga untuk menjaring aktivitas ekonomi yang sering kali tidak terlihat secara fisik, namun memiliki nilai ekonomi. Amalia menekankan pentingnya kejujuran masyarakat dalam memberikan jawaban agar fondasi data ekonomi bangsa menjadi benar-benar akurat.
"Ini bukan survei melainkan sensus di mana kami mendata semua orang tanpa terkecuali, sehingga kami mohon petugas diterima dengan baik dan diberikan data yang benar. Kualitas sensus ini ditentukan oleh informasi dari masyarakat, termasuk dalam menangkap aktivitas ekonomi digital seperti penjual online hingga content creator yang bekerja dari rumah," tegasnya.
Inovasi teknologi menjadi pembeda utama dalam pelaksanaan sensus kali ini dibandingkan dengan periode satu dekade silam. Pemanfaatan geotag memungkinkan BPS memetakan sebaran aktivitas ekonomi secara visual dan akurat di seluruh titik koordinat wilayah Indonesia, termasuk mencakup sektor pertanian secara penuh.
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI juga dikerahkan untuk mempermudah klasifikasi ribuan jenis lapangan usaha yang semakin kompleks di era modern. Langkah ini bertujuan untuk menekan potensi kesalahan manusia dalam proses klasifikasi.