AALI
8300
ABBA
226
ABDA
7050
ABMM
840
ACES
1370
ACST
240
ACST-R
0
ADES
1970
ADHI
970
ADMF
8175
ADMG
166
ADRO
1310
AGAR
380
AGII
1095
AGRO
1095
AGRO-R
0
AGRS
426
AHAP
66
AIMS
352
AIMS-W
0
AISA
228
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3230
AKSI
480
ALDO
925
ALKA
246
ALMI
250
ALTO
380
Market Watch
Last updated : 2021/06/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
478.24
-0.14%
-0.66
IHSG
6089.04
0.14%
+8.65
LQ45
895.20
-0.08%
-0.70
HSI
28638.53
-0.71%
-203.60
N225
29441.30
0.96%
+279.50
NYSE
16662.42
-0.2%
-32.51
Kurs
HKD/IDR 1,830
USD/IDR 14,220
Emas
853,049 / gram

Cetak Sejarah Pertama Kali, Alibaba Rugi Rp12 Triliun 

ECONOMICS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Minggu, 16 Mei 2021 10:05 WIB
Alibaba Group catat kerugian bersih Rp12 triliun untuk pertama kalinya sejak perusahaan milik Jack Ma itu go public pada 2014. 
MNC Media

IDXChannel--Alibaba Group, perusahaan milik miliarder Jack Ma mencatat kerugian pada kuartal keempat di akhir Maret 2021. Kerugian bersih Rp12 triliun yang diderita Alibaba ini untuk pertama kalinya sejak perusahaan milik Jack Ma itu go public pada 2014. 

Tercatat kerugian operasional sebesar 7,7 miliar yuan atau sekitar Rp17 triliun pada kuartal keempat yang berakhir Maret 2021 lalu. Akibat rugi operasional, rugi bersih perusahaan tercatat senilai 5,47 miliar yuan atau sekitar Rp12,06 triliun dalam tiga bulan yang berakhir Maret 2021.

Kerugian itu terjadi setelah perusahaan mendapat denda senilai 18,2 miliar yuan atau sekitar Rp40,1 triliun karena terlibat dalam praktik monopoli. 

Seperti dilansir Forbes, Jakarta, Minggu (16/5/2021), meski mencatat rugi, namun pendapatan perusahaan meningkat. Alibaba melaporkan pendapatan operasional naik 48 persen secara year to year (yoy) menjadi 10,6 miliar yuan sebelum denda. Sementara pendapatan keseluruhan sebesar 187,4 miliar yuan pada kuartal keempat atau naik 64 persen secara yoy.

"Selama tahun fiskal terakhir, kami telah melewati berbagai macam tantangan, termasuk pandemi Covid-19, kompetisi ketat, dan penyelidikan antimonopoli serta keputusan hukum oleh pemerintah China," kata CEO Alibaba Group Daniel Zhang.

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa cara terbaik untuk mengatasi tantangan tersebut adalah tetap fokus pada masa depan dan melakukan investasi jangka panjang.

Sementara itu, saham Alibaba turun 4 persen di Hong Kong pada Jumat (14/5/2021), anjlok hampir 33 persen dari posisi tertinggi di Oktober 2020. Sedangkan di New York, saham perusahaan susut 6,3 persen, merosot 35 persen dari level tertinggi pada bulan yang sama tahun lalu.

Saham Alibaba berada di bawah tekanan sejak pendirinya Jack Ma mengecam pemerintah China dalam pidatonya di forum keuangan pada Oktober 2020. Pihak berwenang dengan cepat melakukan tindakan terhadap raksasa e-commerce itu, termasuk penangguhan secara mendadak penawaran umum perdana saham (IPO) anak usaha Alibaba Group, Ant Group senilai 35 miliar dolar AS.

Ant menyumbang 7,2 miliar yuan terhadap pendapatan Alibaba dalam tiga bulan yang berakhir Maret. Unit fintech ini membukukan laba 21,8 miliar yuan secara kuartalan yang berakhir Desember, naik 49,7 persen dari kuartal sebelumnya. Pada April lalu, Bank Sentral China menyatakan bahwa Ant Group harus melakukan restrukturisasi bisnis sebagai perusahaan induk keuangan. Artinya, mereka harus tunduk pada peraturan yang lebih ketat. (IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD