AALI
8900
ABBA
232
ABDA
6025
ABMM
4650
ACES
625
ACST
210
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
800
ADMF
8525
ADMG
168
ADRO
4050
AGAR
302
AGII
2520
AGRO
640
AGRO-R
0
AGRS
102
AHAP
109
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1605
AKRA
1400
AKSI
324
ALDO
705
ALKA
294
ALMI
380
ALTO
177
Market Watch
Last updated : 2022/09/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.91
-0.84%
-4.57
IHSG
7178.58
-0.56%
-40.32
LQ45
1025.63
-0.68%
-7.01
HSI
17933.27
-1.18%
-214.68
N225
0.00
-100%
-27313.13
NYSE
0.00
-100%
-14236.60
Kurs
HKD/IDR 1,912
USD/IDR 15,030
Emas
805,406 / gram

China Puncaki Krisis Properti Paling Parah Sedunia, Ini Penyebabnya! 

ECONOMICS
Tim IDXChannel
Senin, 15 Agustus 2022 15:13 WIB
Para developer sudah tidak punya cukup uang untuk membayar pinjaman dan obligasi sehingga berimbas pada proyek-proyek infrastruktur.
China Puncaki Krisis Properti Paling Parah Sedunia, Ini Penyebabnya! (Foto: MNC Media)
China Puncaki Krisis Properti Paling Parah Sedunia, Ini Penyebabnya! (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pasar properti China masih menduduki krisis paling parah di dunia pada tahun ini. Pasalnya, para developer sudah tidak punya cukup uang untuk membayar pinjaman dan obligasi sehingga berimbas pada proyek-proyek infrastruktur.

Melalui perhitungan Reuters lewat data Biro Statistik Nasional (NBS) pada Senin (15/8/2022), investasi properti di bulan Juli mengalami penurunan 12,3% year on year. 

Angka tersebut lebih besar dari penurunan 9,4% di bulan Juni sedangkan perhitungan dalam setengah tahun (Januari-Juli), investasi properti menurun 6,4% dari tahun sebelumnya. 

Padahal, investasi properti China mampu menyumbang sekitar seperempat dari ekonomi. Namun kini berada dalam krisis yang berkepanjangan sejak musim panas di tahun 2020. Tren penurunan ini diikuti oleh hilangnya kepercayaan pembeli pada investasi properti baru yang dikerjakan para developer. 

"Pemulihan mungkin terjadi secara bertahap dan bergelombang, peningkatan signifikan dalam kondisi pendanaan pengembang memerlukan pelonggaran yang lebih banyak, dan membutuhkan lebih banyak dukungan kebijakan untuk memulihkan kepercayaan di sektor properti dan menahan potensi risiko," kata seorang analis di Goldman Sachs, dikutip dari Reuters, Senin (15/8/2022).

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD