IDXChannel — Kementerian ESDM menyiapkan peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk mengunci pasokan gas domestik demi kebutuhan rakyat, khususnya mengonversi penggunaan LPG yang saat ini masih didominasi impor ke Compressed Natural Gas (CNG) produksi dalam negeri pada 2028-2029.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan konsumsi LPG Indonesia sebanyak 8,5 juta metrik ton, sementara industri dalam negeri hanya mampu memproduksi 1,8–1,9 juta metrik ton.
Substitusi LPG impor ke CNG, kata dia, juga lebih murah mengingat bahwa Indonesia saat ini mengalami bocor devisa hingga Rp140–Rp150 triliun per tahun hanya untuk impor LPG. Dengan harga energi dunia yang tidak menentu, pemerintah akan menggenjot infrastruktur CNG.
Selain tidak perlu impor, harga CNG di masa depan diproyeksikan 30 hingga 40 persen lebih murah bagi masyarakat dibandingkan LPG.
Rencana ini ditopang temuan cadangan gas raksasa baru sebesar 5 TCF oleh perusahaan energi asal Italia, ENI, di Kalimantan Timur.