Paparan ritel menyajikan realita kontras antara mal kelas atas (upper-class) dan menengah ke bawah di Jabodetabek. Mal-mal elit mencatatkan performa gemilang dengan tingkat hunian mencapai 89,4 persen karena kejelian pengelola menyusun bauran penyewa (tenant mix) dan menciptakan pengalaman belanja gaya hidup.
Sebaliknya, mal kelas menengah ke bawah jalan di tempat dengan tingkat okupansi hanya 63,3 persen akibat gagal beradaptasi dengan tren rekreasi baru masyarakat.
Ketimpangan ini membuat pengembang mal papan atas memiliki kuasa penuh dalam menentukan harga sewa (pricing power), sehingga pertumbuhan tarif ritel di Jakarta melesat jauh meninggalkan kawasan Bodetabek.
Sektor Perhotelan Gaet Peluang Konser dan Long Stay Turis Asing
Di sektor perhotelan, manajemen hotel kini secara resmi menggeser fokus performa. Alih-alih hanya mengejar volume tingkat keterisian kamar, industri hotel kini berlomba mengoptimalkan pendapatan per kamar (RevPAR) melalui personalisasi layanan dan diversifikasi pendapatan non-kamar.
Investasi hotel mewah bintang 5 pun tetap melaju kencang, mendominasi 52,3 persen pasokan masa depan di Jakarta (fokus CBD) dan 91,6 persen di Bali (fokus Seminyak-Canggu dan Ubud).