"Tanah bukan lagi menjadi sumber pendapatan, tetapi tanah itu akan kita berikan secara cuma-cuma, tetapi pendapatannya akan datang dari fasilitas yang kita sediakan," ujarnya.
Konsep tersebut akan dikembangkan melalui kawasan industri terintegrasi yang tidak hanya menyediakan lahan bagi investor, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Fasilitas tersebut mencakup sekolah, properti, kelistrikan, pengolahan air atau water treatment, fiber optic, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Dony mengatakan, perubahan model bisnis tersebut diharapkan membuat kawasan industri Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.
"Sehingga dengan demikian kita menjadi cukup kompetitif, dan bahkan sangat kompetitif dibandingkan dengan negara-negara di sekitar kita," katanya.
Lebih lanjut, Dony menyebut konsolidasi 23 perusahaan tersebut akan menghasilkan satu institusi pengelola kawasan industri dengan total lahan sekitar 35.000 hektare. Dengan skala tersebut, perusahaan hasil konsolidasi diproyeksikan menjadi salah satu pengelola kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.