"Kenapa bisa defisit? Karena bulan April itu lagi tinggi-tingginya harganya. Padahal volume impornya sebenarnya turun. Volume impor migas dan nonmigas itu lagi turun, tapi nilainya naik karena harga minyaknya lagi pas tinggi, di atas USD100 per barel. Mudah-mudahan Juli bisa membaik lagi karena kalau saya lihat grafiknya sudah mulai turun," kata Budi.
Ia menambahkan, pemerintah optimistis tekanan terhadap neraca perdagangan akan berangsur mereda seiring penurunan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir. Dengan demikian, kinerja perdagangan Indonesia diharapkan kembali membaik pada bulan-bulan berikutnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)