IDXChannel - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencatat realisasi investasi sebesar Rp32 triliun yang didominasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp24 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp8 triliun, serta menciptakan 34.162 lapangan kerja baru.
Secara kumulatif, realisasi investasi di KEK mencapai Rp368 triliun sejak kebijakan tersebut diluncurkan. Investasi tersebut berasal dari 444 badan usaha dan pelaku usaha, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang hingga 28 Juli 2026.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang menekankan bahwa KEK terus memperkuat perannya sebagai salah satu kontributor transformasi ekonomi nasional.
"Capaian strategis periode ini mencakup penguatan hilirisasi industri, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga penyiapan ekosistem energi hijau yang berkelanjutan," ujar Edwin dalam keterangan resmi dikutip Minggu (2/8/2026).
Edwin membeberkan sejumlah KEK prospektif yang mendukung agenda hilirisasi. Di antaranya, KEK Gresik yang menarik rencana investasi USD600 juta dari PT GEABH Joint Technology untuk pembangunan pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia berkapasitas 120.000 ton per tahun. Selain itu, ada juga PT Evyap Sabun Indonesia di KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi USD130 juta di sektor hilirisasi kelapa sawit.
Di sektor manufaktur, KEK Kendal memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu senilai Rp1,12 triliun yang berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja. Adapun KEK Industropolis Batang memperkuat pengembangan energi hijau melalui penandatanganan dua nota kesepahaman dengan investor Hungaria.
Kemudian, ada sejumlah arah strategis pengembangan KEK sebagai fondasi dalam meningkatkan daya saing investasi nasional yang lebih terintegrasi dan bernilai tambah. Hal tersebut tampak melalui penguatan ekosistem hilirisasi industri, seperti di KEK Galang Batang yang mengintegrasikan produksi 12 juta ton bauksit, 4 juta ton smelter grade alumina (SGA), hingga 2 juta ton aluminium ingot per tahun.
Berikutnya, ada pengembangan ekonomi digital melalui pusat data (data center), Artificial Intelligence (AI), dan konektivitas internasional, termasuk pengoperasian kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable sepanjang 50 km berkapasitas 1,6 petabit per detik.
Edwin menammbahkan, KEK juga terus dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan baru di sektor pariwisata, pendidikan, dan pengembangan SDM, antara lain peningkatan kunjungan wisatawan di berbagai KEK pariwisata, kolaborasi KEK Singhasari dengan King's College London, serta pengembangan talenta industri melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan yang didukung alokasi anggaran Rp6,26 triliun untuk program pelatihan vokasi dan kesiapan tenaga kerja.
(Rahmat Fiansyah)