Ia menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu produsen utama berbagai komoditas tambang dunia, mulai dari batu bara, nikel, tembaga hingga timah. Namun demikian, besarnya produksi nasional tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan Indonesia dalam mengendalikan harga komoditas global.
Untuk batu bara, Asia menyumbang sekitar 74 persen dari total produksi dan konsumsi dunia. Sementara Eropa dan Amerika tidak lagi menjadi pasar dengan pertumbuhan signifikan.
Dari total perdagangan batu bara dunia yang mencapai sekitar 1,5 miliar ton, Indonesia menyumbang lebih dari 500 juta ton, atau di atas 30 persen bahkan mendekati 40 persen pangsa perdagangan global.
"Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Dari 1,3 miliar ton, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau sekitar kurang lebih sekitar 43 persen. Akibatnya apa? Supply dan demand itu tidak terjaga yang pada akhirnya membuat harga batu bara turun," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberapa waktu lalu.
Posisi Indonesia jauh lebih kuat di sektor nikel. Dari total kebutuhan nikel dunia sekitar 3,2–3,4 juta ton per tahun, produksi Indonesia mencapai 2,2 juta ton atau sekitar 65 persen dari pasokan global. Dengan porsi sebesar itu, Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan baja tahan karat dunia.