Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (UID Jaya), Moch. Andy Adchaminoerdin, mengatakan sistem utama di setiap lokasi diperkuat dengan cadangan berlapis sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing kegiatan.
“Untuk setiap lokasi kegiatan, kami menyiapkan skenario sesuai kebutuhan. Sistem utama kami perkuat dengan sumber cadangan berlapis, baik dari gardu induk maupun subsistem yang berbeda, kemudian dilengkapi UPS dan genset. Personel juga kami tempatkan di titik-titik siaga untuk melakukan pemantauan dan merespons kondisi di lapangan,” kata Andy, Senin (17/8/2026).
Andy menambahkan, pihaknya telah melakukan instalasi dan simulasi perkuatan kelistrikan di sejumlah lokasi kegiatan, termasuk kawasan Monas dan Istana Merdeka, untuk menjaga sistem dan peralatan pendukung siap digunakan sesuai skenario yang telah ditetapkan.
Di kawasan Monas, PLN menyiagakan 86 personel di tujuh titik siaga untuk mendukung pelaksanaan Kirab Bendera pada 17 Agustus. Pengamanan dilakukan melalui lapis 3 yang didukung satu subsistem, dua gardu induk, dua penyulang, serta perangkat pendukung berupa UGB, genset, dan UPS.
Sementara untuk Pesta Rakyat yang berlangsung di kawasan Monas, Bundaran HI, dan Sarinah, PLN menyiagakan 134 personel di 12 titik siaga, dengan dukungan dua gardu induk, 2 penyulang, 1 genset, dan 12 UPS.
Kesiapan tersebut melengkapi pengamanan PLN pada berbagai rangkaian kegiatan yang telah berlangsung di Jakarta sejak awal Agustus, termasuk Dzikir dan Doa Kebangsaan, Hari Pramuka, Sidang Tahunan MPR RI dan Pidato Kenegaraan, serta Renungan Suci.
Kesiapan kelistrikan di Jakarta merupakan bagian dari kesiapsiagaan PLN secara nasional. Pada 17 Agustus 2026, beban puncak kelistrikan nasional diproyeksikan mencapai 42,6 gigawatt (GW), sementara daya mampu pembangkit mencapai 51,6 GW. Dengan demikian, tersedia cadangan daya sebesar 9 GW atau sekitar 21,1 persen dari proyeksi beban puncak.