AALI
9800
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
785
ACES
1485
ACST
300
ACST-R
0
ADES
1685
ADHI
1105
ADMF
8175
ADMG
165
ADRO
1180
AGAR
436
AGII
1100
AGRO
995
AGRO-R
0
AGRS
308
AHAP
73
AIMS
366
AIMS-W
0
AISA
296
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
488
AKRA
3120
AKSI
800
ALDO
795
ALKA
244
ALMI
244
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/04/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
475.19
-1.04%
-5.00
IHSG
5993.24
-0.75%
-45.08
LQ45
892.79
-1.08%
-9.77
HSI
28621.92
-1.76%
-513.81
N225
28508.55
-2.03%
-591.83
NYSE
0.00
-100%
-16107.56
Kurs
HKD/IDR 1,867
USD/IDR 14,505
Emas
832,144 / gram

Dorong Transisi Energi, Teknologi ESS Diperlukan

ECONOMICS
Oktiani/Koran Sindo
Selasa, 09 Maret 2021 07:10 WIB
Tenaga surya dan angin akan menjadi energi baru terbarukan (EBT) yang dominan di masa depan.
Dorong Transisi Energi, Teknologi ESS Diperlukan (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, tenaga surya dan angin akan menjadi energi baru terbarukan (EBT) yang dominan di masa depan. 

Namun, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) bersifat intermittent dimana hanya menghasilkan listrik ketika ada panas matahari dan angin yang berhembus. 

Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS) untuk menyimpan energi yang dihasilkan. 

"Beberapa model peta jalan energi global menunjukkan bahwa 50% energi akan berasal dari surya dan angin. Dengan sifatnya yang intermittent maka membutuhkan penyimpanan. Ketika pembangkit listrik itu menghasilkan energi dan tidak dipakai maka bisa disimpan dalam storage. Ketika kita membutuhkan energi itu maka bisa digunakan dari storage," ujarnya dalam Forum Teknologi dan Inovasi Energi Masa Depan yang bertajuk "Imagining Indonesia’s Energy Future", Senin (8/3/2021). 

Menurutnya, tren secara global pada tahun 2050 dari sisi teknologi akan terjadi penurunan harga teknologi surya, angin, dan baterai. Baterai dalam 10 tahun terakhir harganya sudah turun 89%. Demikian juga dengan teknologi surya yang turun 89% dan angin turun 59%. 

"Untuk itu, kombinasi dari baterai dan variabel energi diharapkan bisa menjadi solusi yang andal dan efektif," ungkapnya. 

Fabby menuturkan, untuk mencapai target bauran energi sesuai dalam Perjanjian Paris maka harus ada penambahan pembangkit EBT sebesar 15-20 gigawatt (GW) setiap tahunnya.  Dalam perhitungannya, sekitar 50% dari kapasitas pembangkit berasal dari surya dan angin. 

Dengan penetrasi Variable Renewable Energy (VRE) seperti PLTS dan PLTB yang bersifat intermittent yang lebih besar maka energy storage diperlukan untuk menjaga kestabilan dan keandalan sistem. 

"Dengan kondisi ini maka energy storage baik utility scale dan small scale sangat dibutuhkan," tukas dia. (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD