Ade menuturkan, penurunan CLI dan LEI memang belum dapat diartikan sebagai tanda Indonesia menuju resesi. Namun, kesamaan arah kedua indikator tersebut menunjukkan adanya perubahan momentum ekonomi sejak penghujung 2025.
Analisis NEXT Indonesia Center menujukkan, tekanan mulai terlihat pada konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian. Pada semester I-2026, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,82 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, kekuatan konsumsi mulai berkurang.
Survei Bank Indonesia mengungkapkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 123,0 pada April 2026 menjadi 117,8 pada Juni 2026. Melemahnya keyakinan konsumen juga tercermin pada penjualan eceran. Indeks Penjualan Riil (IPR) terkontraksi 3,87 persen secara tahunan pada Mei 2026 dan diprakirakan kembali turun 4,44 persen pada Juni 2026.
Penurunan terjadi pada sejumlah kelompok barang, termasuk makanan, minuman, dan tembakau; bahan bakar kendaraan; barang budaya dan rekreasi; serta peralatan informasi dan komunikasi.
“Ketika masyarakat mulai menahan konsumsi dan pelaku usaha domestik mengurangi ekspansi, dampaknya dapat menjalar ke produksi, pendapatan, hingga penciptaan lapangan kerja. Karena itu, menjaga daya beli dan kepercayaan dunia usaha menjadi penting untuk mencegah pelemahan berlanjut,” kata Ade.