Dari sisi platform, pemerintah membangun mobilisasi modal institusional melalui Danantara sebagai jangkar ko-investasi. Rencana penempatan dana hingga USD14 miliar pada 2026, yang bersumber dari dividen portofolio dan dialokasikan ke dalam negeri, menunjukkan arah pembentukan modal yang berkelanjutan dan dapat diperluas.
Pada aspek pipeline, kebijakan difokuskan pada sektor yang memiliki keunggulan struktural, seperti energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, serta ketahanan pangan.
Sektor tersebut dinilai memiliki permintaan jangka panjang dan daya tarik bagi investor.
“Sektor ini relatif lebih tahan terhadap volatilitas siklus dan cocok bagi modal yang berjangka panjang dan sabar,” ujarnya.
Dari sisi kredibilitas, Indonesia dinilai menunjukkan komitmen kuat melalui berbagai langkah pendanaan berbasis pasar, termasuk penerbitan lanjutan obligasi Patriot, penyelarasan peringkat di level BBB, serta kemitraan investasi sekitar USD45 miliar.