Sebaliknya, kelompok bawah dengan saldo di bawah Rp100 juta mendominasi jumlah rekening hingga 98,91 persen (664,08 juta rekening). Ironisnya, total nilai simpanan mereka hanya Rp1.116,31 triliun atau 11,13 persen dari total DPK, dengan rata-rata saldo hanya Rp1,68 juta per rekening.
Dalam rentang waktu enam tahun (Januari 2020 hingga Januari 2026), simpanan kelas atas tumbuh pesat hingga 91,93 persen. Sementara itu, kelas menengah hanya tumbuh 34,22 persen dan kelas bawah tumbuh paling lambat di angka 29,83 persen.
Awalil juga menyoroti penurunan kualitas simpanan di kelas bawah. Jika pada Januari 2020 rata-rata saldo per rekening kelas bawah adalah Rp2,89 juta, kini angka tersebut merosot menjadi Rp1,68 juta.
"Salah satu penyebab melonjaknya jumlah rekening kelompok terbawah mungkin karena harus membuat rekening baru, ketika menerima bantuan sosial atau ikut program tertentu. Rekening sebenarnya tidak berfungsi optimal sebagai sarana menabung," tutur dia.
Fenomena ini diharapkan menjadi alarm bagi pembuat kebijakan. Penguasaan aset keuangan yang terkonsentrasi pada segelintir pihak berisiko memperburuk ketimpangan sosial-ekonomi di masa depan.