Selain itu, dia menyoroti tren defisit anggaran sebagai indikator utama yang selalu dipantau oleh investor internasional. Nailul mencatat perbaikan defisit yang terjadi saat ini bersifat sementara karena adanya perlambatan aktivitas belanja pemerintah, khususnya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
"Tapi ada juga faktor domestik yaitu pengelolaan APBN. Pengelolaan APBN yangntidak prudent bisa melemahkan rupiah karena investor luar tidak berkenan masuknke dalam negeri. Kemudian, fiskal yang menunjukkan sinyal kuning atau merah bisanmembuat investor keluar dari Indonesia," ujar Huda.
Lebih lanjut, Nailul menyampaikan kekhawatirannya mengenai proyeksi fiskal di semester II-2026. Dia mengantisipasi adanya lonjakan belanja pemerintah yang masif pasca libur sekolah yang berisiko membuat pengelolaan anggaran menjadi kurang disiplin jika tidak dimitigasi dengan baik.
"Salah satu sinyalnya adalah defisit anggaran. Saat ini, meskipun defisit anggaran membaik, tapi lebih kepada belanja MBG yang 'libur' selama libur sekolah. Semester II ini, saya khawatir akan jor-joran lagi yang akan berdampak pada pengelolaan yang tidak prudent lagi. Akhirnya, rupiah bisa jatuh lebih dalam," kata Huda.
(Dhera Arizona)