Arsjad mengatakan, ekonomi halal sendiri kini tidak lagi terbatas pada sektor makanan dan minuman, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem luas yang mencakup keuangan syariah, fesyen, kosmetik, hingga gaya hidup halal. Nilai ekonomi halal global bahkan diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kehadiran B57+ menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama ekonomi lintas negara berbasis nilai-nilai Islam. Ia optimistis platform ini mampu menjawab tantangan global melalui pendekatan kolaboratif.
"Ekonomi halal saat ini telah menjadi arus utama dan berpotensi besar sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama," kata Nasaruddin.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia Eka Sastra menegaskan bahwa ekspansi ke kawasan Asia Pasifik membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional.
"Harapan kita, Kadin ini adalah organisasi bisnis, kita ingin mendorong ekonomi halal kontribusi terhadap GDP dunia meningkat, dan kita ingin, karena Indonesia jumlah populasi terbesar musim di dunia, harusnya Indonesia menjadi motor produktifitas produk halal di dunia," kata dia.
(Febrina Ratna Iskana)