sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Gas Mahal Bebani Industri, Purbaya Minta Blok Masela Beri Harga Terjangkau

Economics editor Anggie Ariesta
24/02/2026 18:32 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi perhatian serius pada skema harga gas yang dihasilkan dari proyek jumbo Blok Masela. 
Gas Mahal Bebani Industri, Purbaya Minta Blok Masela Beri Harga Terjangkau. Foto: iNews Media Group.
Gas Mahal Bebani Industri, Purbaya Minta Blok Masela Beri Harga Terjangkau. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberi perhatian serius pada skema harga gas yang dihasilkan dari proyek jumbo Blok Masela

Dalam rapat koordinasi percepatan proyek tersebut, Purbaya menekankan pentingnya harga gas yang kompetitif tidak hanya untuk pasar global, tetapi juga sebagai motor penggerak industri domestik yang saat ini terbebani harga energi yang tinggi.

Purbaya menyoroti realitas harga gas di pasar saat ini yang mencapai angka di atas USD12 per MMBTU, yang dinilai memberatkan pelaku usaha dalam negeri.

"Saya ini melihat begini, kita pengusaha beli gas harganya mahal, sekarang USD12 lebih. Ini ada produksi yang akan besar ke depan kan?" ujar Purbaya usai memimpin Sidang Debottlenecking Investasi, Selasa (24/2/2026).

Purbaya pun meminta agar besarnya potensi produksi gas dari Lapangan Abadi ini dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan struktur industri nasional melalui harga yang lebih terjangkau.

"Bisa enggak ini dipakai untuk men-support industri dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Nanti kita pikirkan itu," kata dia.

Pada saat rapat berlangsung, Purbaya juga mempertanyakan ambang batas harga yang dianggap layak oleh Inpex agar fasilitas produksi tetap menguntungkan secara bisnis namun tetap kompetitif.

"Berapa harga pasar yang layak bagi kalian untuk mengoperasikan fasilitas ini secara menguntungkan?" tanya Purbaya kepada manajemen Inpex.

Selain itu, Purbaya mempertanyakan kelayakan proyek gas jumbo Blok Masela yang digarap oleh Inpex Corporation Ltd, terutama dari sisi keekonomian harga gas. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela yang dia pimpin di Kementerian Keuangan.

Menanggapi pertanyaan Menkeu, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco, mengungkapkan bahwa memperkirakan kisaran harga keekonomian sangatlah sulit mengingat biaya investasi pembangunan Kilang LNG yang terus membengkak setiap tahunnya.

Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD21 miliar (sekitar Rp352 triliun) dengan kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa dan memiliki potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.

Harrad Blinco mengakui bahwa secara internasional, tingkat keuntungan proyek ini berada pada level yang sangat tipis.

"Itu marginal. Sangat marginal secara internasional. Ini adalah kekhawatiran terbesar kami dan risiko terbesar kami dalam proyek ini," kata Harrad Blinco.

Selain kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) dan penerapan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), proyek ini diharapkan mampu menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.

Pemerintah kini tengah mencari titik keseimbangan agar proyek tetap layak secara bisnis bagi investor, namun tetap mampu menyediakan energi murah bagi kemajuan industri di Indonesia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement