AALI
9725
ABBA
302
ABDA
5825
ABMM
1370
ACES
1255
ACST
184
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2310
AGAR
360
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
69
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
172
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
710
AKSI
690
ALDO
1390
ALKA
292
ALMI
288
ALTO
260
Market Watch
Last updated : 2022/01/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.19
-0.02%
-0.10
IHSG
6611.16
0.16%
+10.34
LQ45
947.02
0.02%
+0.16
HSI
23775.35
-2.12%
-514.55
N225
26170.30
-3.11%
-841.03
NYSE
16236.51
-0.64%
-103.81
Kurs
HKD/IDR 1,844
USD/IDR 14,383
Emas
837,385 / gram

Hadapi Gelombang Keempat, Eropa dan Inggris Diserang Mutasi Covid-19 Jenis AY.4.2

ECONOMICS
Muhammad Sukardi
Selasa, 23 November 2021 09:04 WIB
Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya diserang varian Delta Plus AY.4.2. Varian Delta tersebut menyumbang sekitar 12 persen dari sampel yang dikumpulkan.
Hadapi Gelombang Keempat, Eropa dan Inggris Diserang Mutasi Covid-19 Jenis AY.4.2
Hadapi Gelombang Keempat, Eropa dan Inggris Diserang Mutasi Covid-19 Jenis AY.4.2

IDXChannel - Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya diserang varian Delta Plus AY.4.2. Varian Delta tersebut menyumbang sekitar 12 persen dari sampel yang dikumpulkan peneliti hingga 5 November 2021.

Varian Delta Plus AY.4.2 diperkirakan 10 hingga 15 persen lebih mudah menular daripada varian Delta lainnya dan itu yang membuat Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya kini kelimpungan. Bahkan, menurut laporan The Mirror, Inggris melaporkan varian ini mendominasi dalam beberapa bulan terakhir.

Hal yang menjadi perhatian Inggris sekarang adalah fakta bahwa AY.4.2 tidak begitu menunjukkan gejala. Seperti dilaporkan laman My London, serangan AY.4.2 sangat kecil kemungkinan menyebabkan kasus bergejala, dibandingkan varian sebelumnya.

"Dua per tiga atau 66,7% dari mereka yang terpapar AY.4.2 dalam penelitian ini bergejala, berbanding dengan 76,4% pasien terpapar varian Delta AY.4," ungkap laporan tersebut, dikutip MNC Portal, Selasa (23/11/2021).

Gejala yang banyak dilaporkan pasien AY.4.2 amat klasik, seperti demam, batuk terus-menerus, pun kehilangan kemampuan mengecap rasa atau mencium bau.

"Kasus AY.4.2 adalah ancaman serius karena mereka yang terpapar tidak semuanya pasti bergejala, dan jika pasien harus menunggu bergejala dulu akan memungkinkan virus menyebar lebih banyak ke orang lain," kata Christl Donnelly, seorang profesor epidemiologi statistik di Imperial College London.

Dengan kondisi tersebut, sambung Christl, amat penting untuk pemerintah menggiatkan testing dan tracing di masyarakat. "Memastikan semua yang kontak erat dites meski tanpa gejala adalah upaya yang harus dilakukan sekarang untuk mengurangi transmisi virus," tambahnya.

Sementara itu, para ilmuwan sangat berharap agar penyuntikan vaksin booster segera dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus. Selain itu, pembatasan perjalanan juga diperlukan dan ini sudah dilakukan pada Italia, Swiss, Kroasia, dan Belanda.

(NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD