AALI
9800
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
785
ACES
1485
ACST
300
ACST-R
0
ADES
1685
ADHI
1105
ADMF
8175
ADMG
165
ADRO
1180
AGAR
436
AGII
1100
AGRO
995
AGRO-R
0
AGRS
308
AHAP
73
AIMS
366
AIMS-W
0
AISA
296
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
488
AKRA
3120
AKSI
800
ALDO
795
ALKA
244
ALMI
244
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/04/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
475.19
-1.04%
-5.00
IHSG
5993.24
-0.75%
-45.08
LQ45
892.79
-1.08%
-9.77
HSI
28621.92
-1.76%
-513.81
N225
28508.55
-2.03%
-591.83
NYSE
0.00
-100%
-16107.56
Kurs
HKD/IDR 1,867
USD/IDR 14,505
Emas
832,144 / gram

Harga Cabai Rawit Kian Pedas, Omzet Pedagang Pasar Kramat Jati Anjlok 50 Persen

ECONOMICS
Oktorizi Alpino/Sindonews
Jum'at, 05 Maret 2021 20:37 WIB
Pedagang cabai rawit di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur mengalami penurunan omzet.
Harga Cabai Rawit Kian Pedas, Omzet Pedagang Pasar Kramat Jati Anjlok 50 Persen (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Meroketnya harga cabai rawit merah yang diakibatkan petani gagal panen karena musibah banjir membuat pedagang di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur mengalami penurunan omzet. Hal itu terjadi karena para pembeli mengurangi belanjaannya. 

Cahyono pedagang cabai di Pasar Kramat Jati mengatakan, saat ini harga cabai rawit merah di Pasar Kramat Jati masih berada diangka Rp120 - Rp 130 ribu per kilogram. 

"Harganya belum normal, masih tinggi jadi banyak pembeli yang biasanya beli banyak sekarang belinya sedikit," kata Cahyono di Pasar Kramat Jati, Jumat (5/3/2021). 

Dia menjelaskan, harga normal cabai rawit merah yakni berkisar Rp 30 ribu per kilogram. Sebelum harga cabai naik, lanjut dia, omzet yang didapat biasanya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. 

"Sekarang karena pembeli mengurangi belanjaan omzet turun sekitar 50 persen," ujarnya. 

Yuni pedagang lainnya di Pasar Kramat Jati pun bernasib serupa. Imbas naiknya harga cabai pendapatannya dari menjual pun ikut menurun. "Naiknya juga si enggak kira-kira dari Rp 30 ribu jadi Rp 130 ribu. Seminggu yang lalu malah pernah sampai Rp 150 ribu per kilogram," beber dia. 

Agar tidak mengalami kerugian, Yuni mensiasatinya tidak menstok barang dengan jumlah banyak. Tetapi, kata dia, cara itu tetap saja tidak berpengaruh. 

"Langganan saya dari rumah makan kalau belanja jadi sedikit karena harga per kilogramnya masih diatas Rp 100 ribu," kata dia.

(Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD