Berdasarkan data World Gold Council, permintaan emas batangan global mencapai 1.402 ton pada 2025, meningkat 16 persen dibandingkan 1.208 ton pada tahun sebelumnya. Sementara itu, konsumsi perhiasan emas di Indonesia tercatat turun 27 persen dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.
Meski konsumsi domestik menurun, Agus menegaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta menggerus kinerja industri perhiasan nasional. Menurutnya, industri perhiasan masih menunjukkan kontribusi signifikan terhadap neraca perdagangan Indonesia.
“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia, terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025. Nilainya naik dari USD5,5 miliar pada 2024 menjadi USD9,1 miliar pada 2025,” ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyampaikan, mayoritas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan tetap memilih fokus memproduksi perhiasan dibandingkan beralih ke bisnis logam mulia. Sebab, pasar perhiasan masih cukup kuat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.