sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak di Timteng Tembus USD150 per Barel Imbas Perang Berkepanjangan

Economics editor Rahmat Fiansyah
19/03/2026 13:43 WIB
Perang antara Iran dan Israel yang dibekingi Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda-tanda selesai.
Perang antara Iran dan Israel yang dibekingi Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda-tanda selesai. (Foto: Ist)
Perang antara Iran dan Israel yang dibekingi Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda-tanda selesai. (Foto: Ist)

IDXChannel - Perang antara Iran dan Israel yang dibekingi Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Situasi ini memicu krisis di Timur Tengah (Timteng) yang berdampak pada lonjakan harga minyak mentah (crude oil).

Keputusan Iran memblokade Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak karena 20 persen arus perdagangan minyak global melewati selat tersebut. Baru-baru ini, Israel juga menyerang ladang gas alam South Pars milik Iran yang mengancam ketahanan energi global.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD97 per barel. Namun, di Timur Tengah seperti Oman dan Dubai, harga minyak acuan sudah menyentuh level USD150, menandai krisis pasokan. Para pedagang berebut amankan minyak dari Teluk Persia.

"Ini murni akibat kelangkaan stok yang mendorong harga," kata Kepala Ekonom Argus Media, David Fyfe dikutip dari Financial Times, Kamis (19/3/2/2026).

Minyak dari Oman yang harus melewati Selat Hormuz menyentuh angka USD154 per barel pada Kamis. Kenaikan harga ini imbas minimnya stok minyak yang keluar dari Timteng.

Minyak-minyak yang memiliki spesifikasi serupa dengan Oman juga naik karena kilang-kilang mulai mencari produk substitusi. Beberapa di antaranya minyak yang diproduksi Norwegia, Aljazair, Libya, dan Kazakhstan mencetak rekor tertinggi.

Selain kelangkaan stok, pembeli juga harus membayar lebih tinggi karena meningkatnya permintaan kargo, rute yang lebih panjang, dan biaya bahan bakar angkutan yang lebih mahal.

Founder Vanda Insights, Vandana Hari mengatakan, harga minyak berpotensi meningkat lebih tinggi jika kapal tanker minyak tidak bisa melewati Selat Hormuz hingga beberapa pekan ke depan.

"Minyak acuan Timur Tengah seperti Oman dan Dubai sudah melampaui ambang batas USD150, sehingga harga USD200 kini sudah dalam jangkauan, meskipun ini belum tentu berlaku untuk Brent dan WTI," kata Vandana kepada Al Jazeera.

Menurutnya, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada Selat Hormuz. Iran hingga saat ini masih menyerang kapal-kapal yang berani melewatinya. Namun, sejumlah kapal berbendara India, Pakistan, Turki, dan China masih diizinkan lalu lalang.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump gagal meraih dukungan internasional untuk melindungi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Bahkan, ancamannya untuk menarik AS dari Selat Hormuz belum digubris negara-negara lain, termasuk NATO.

Adapun rencana International Energy Agency (IEA) melepas cadangan minyak 400 juta barel dinilai tidak cukup untuk menutup berkurangnya stok yang hilang akibat perang. OCBC Group Research memperkirakan, pasar global akan kekurangan 10 juta barel setiap harinya, bahkan jika cadangan dikeluarkan.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement