AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/05/13 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
27718.67
0%
0.00
N225
27448.01
0%
0.00
NYSE
16181.63
-1.06%
-173.99
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,198
Emas
838,980 / gram

Harga Minyak Sawit Meroket Imbas Ekspor dari Malaysia

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti/Sindo
Senin, 12 April 2021 13:42 WIB
Adapun sejak awal pemerintah mengumumkan masuknya Covid-19 ke Indonesia, di perkebunan kelapa sawit langsung menggencarkan protokol kesehatan.
Harga Minyak Sawit Meroket Imbas Ekspor dari Malaysia (FOTO:MNC Media)

IDXChannel – Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali bergerak menguat dan mencapai level tertingginya sejak 25 Maret lalu. Hal tersebut ditopang oleh tingginya ekspor dari Malaysia jelang perayaan Ramadhan dan rally harga minyak, serta biji kedelai. 

Presiden Direktur PT Triputra Agro Persada Tbk Tjandra Karya Hermanto mengungkapkan, sektor perkebunan kelapa sawit merupakan sektor yang relatif mampu bertahan di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini. 

“Sawit ini kan merupakan untuk konsumsi, makanan, dan juga energi. Jadi, di masa pandemi Covid-19 ini relatif menjadi sektor yang bisa bertahan,” ungkapnya dalam acara Market Review IDX Channel, Senin (12/4/2021). 

Adapun sejak awal pemerintah mengumumkan masuknya Covid-19 ke Indonesia, di perkebunan kelapa sawit langsung menggencarkan protokol kesehatan. Jadi, operasional bisa berjalan dengan baik. 

“Keluar dan masuk orang ini kita atur sedemikian rupa. Sehingga, sampai dengan hari ini operasional pabrik dan operasional perkebunan bisa berjalan dengan lancar walaupun memang ada sedikit yang terkena tetapi masih terkendali,” kata Tjandra. 

Sementara itu, pada awal Covid-19 merebak permintaan pasar dikhawatirkan akan mengalami penurunan karena ada penurunan demand dari beberapa negara yang melakukan lockdown. Akan tetapi, kondisi yang terjadi tidak seperti yang diperkirakan. 

“Yang terjadi pada waktu awal itu adalah China mengalami lockdown, kemudian India masih melakukan import dengan cukup banyak. Pada waktu India lockdown, China mulai recovery lagi. Jadi secara permintaan shifting aja itu antara China dan India,” papar dia.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD