Pada kelompok komoditas perkebunan lainnya, HR biji kakao untuk periode November 2026 dipatok di level USD5.613,60 per MT, atau merosot USD444,27 (7,33 persen) dari posisi bulan sebelumnya. Pelemahan HR tersebut berdampak langsung pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao periode November 2026 menjadi USD5.242 per MT, terkoreksi USD444 atau turun 7,81 persen dibanding periode sebelumnya.
“HPE dan HR dihitung dengan memperhatikan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Terjadi peningkatan stok biji kakao akibat masa panen di negara produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu penurunan HR dan HPE biji kakao periode November 2026,” kata Tommy.
Adapun tarif BK biji kakao periode November 2026 ditetapkan sebesar 7,5 persen, merujuk pada Kolom Angka 4 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 juncto PMK Nomor 68 Tahun 2025. Di saat yang sama, pungutan ekspor (PE) biji kakao dipatok sebesar 7,5 persen berdasarkan Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 juncto PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Untuk komoditas produk kulit, besaran HPE per November 2026 tercatat tidak mengalami perubahan dari periode sebelumnya. Ketetapan harga yang tidak berubah juga berlaku pada HPE keping kayu (chipwood), kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm² dari jenis hutan tanaman sungkai, serta kayu olahan merbau dengan dimensi penampang 4.000–10.000 mm².
Di sisi lain, tren kenaikan tarif HPE terjadi pada kayu veneer dari hutan alam, kayu lapis kemasan (wooden sheet for packing box), serta kayu olahan dengan penampang 1.000–4.000 mm² dari jenis meranti dan sortimen hutan tanaman jenis akasia serta sengon. Peningkatan juga dialami oleh komoditas getah pinus yang pada November 2026 naik USD3 atau 0,29 persen menjadi USD1.023 per MT dibanding bulan Oktober 2026.
Sebaliknya, penurunan nilai HPE membayangi komoditas kayu veneer dari hutan tanaman, kayu kering atau pecahan (wood in chips or particle), kayu olahan dengan penampang 1.000–4.000 mm² jenis merbau, serta sortimen dari jenis eboni dan jati. Penurunan patokan harga ekspor tersebut juga melanda aneka produk yang berasal dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina, karet, balsa, hingga eukaliptus.
(Dhera Arizona)