IDXChannel – Dalam beberapa tahun terakhir, hilirisasi mineral terus dikembangkan dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah.
Kendati demikian, masih ada sejumlah sektor tantangan mulai dari regulasi, perpajakan, hingga penerapan teknologi terkini untuk mendorong efisiensi produksi.
"Hilirisasi ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada ekosistem yang kuat secara ekonomi dan industrinya, mulai dari hulu hingga hilir," kata Ketua Ikatan Alumni Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Achmad Ardianto dalam temu media menjelang MET Connex 2026 di Jakarta (7/5/2026).
"Masih banyak isu yang harus diurai untuk mempercepat nilai tambah produk-produk dari komoditas yang ada di Indonesia," lanjutnya.
Pria yang pernah menjabat Direktur Utama Antam itu menyebutkan, economic system di industri pertambangan di Tanah Air memang menantang. Selain regulasi dan penerapan teknologi yang juga harus mendapat perhatian adalah terkait kemampuan sumber daya manusia (SDM).
Sementara itu, Chairman of ITB Metallurgy Alumni Association Erika Silva mengatakan, dalam perkembangan ke depan, integrasi antara sektor pertambangan (mining) dan pengolahan mineral (mineral processing/metallurgy) menjadi kunci strategis bagi Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar energi global.
Menurutnya, di tengah percepatan transisi menuju energi hijau dan terbarukan, sinkronisasi teknologi yang terintegrasi dari proses penambangan hingga pengolahan akhir menjadi sangat krusial untuk menciptakan industri yang stabil, efisien, bernilai tambah tinggi, serta berkelanjutan.