IDXChannel - Honda Motor membukukan kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun sebagai perusahaan terbuka. Adapun kerugian tersebut dipicu biaya untuk merestrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) sebesar lebih dari USD9 miliar.
Perusahaan juga membatalkan target jangka panjang penjualan EV.
Melansir Reuters, laporan keuangan terburuk sejak Honda melantai di bursa pada 1957 ini menegaskan bahwa taruhan agresif pada EV bisa sangat berisiko bagi produsen mobil lama, terutama ketika berhadapan dengan permintaan yang lebih lemah dari perkiraan.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, pada Kamis mengatakan bahwa perusahaan membatalkan target agar EV menyumbang seperlima dari penjualan mobil barunya pada 2030, serta target peralihan penuh ke kendaraan listrik atau berbasis fuel cell pada 2040.
Mibe juga menyebut Honda akan menunda tanpa batas proyek EV di Kanada, yakni rencana investasi senilai USD11 miliar untuk memproduksi EV dan baterai, yang seharusnya menjadi investasi terbesar perusahaan Jepang tersebut di negara itu.
Saham Honda sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan sebelum ditutup naik 3,8 persen pada Kamis, setelah perusahaan menjanjikan pengembalian kepada pemegang saham setidaknya 800 miliar yen dalam tiga tahun, serta mempertahankan dividen tahunan sebesar 70 yen per saham baik untuk tahun fiskal baru maupun yang baru berakhir.
Komitmen ini menyoroti ketergantungan Honda pada bisnis sepeda motornya yang menguntungkan untuk menghasilkan kas dan mendukung imbal hasil bagi pemegang saham, sementara bisnis mobilnya masih tertinggal dari sisi skala dan eksekusi.
“Eksekusi secara keseluruhan sangat lambat,” ujar Kepala riset mobilitas di Macquarie, James Hong.
Dia menambahkan, beberapa langkah strategi seperti penggunaan lebih banyak komponen lokal dari China, bukanlah menjadi hal baru.
Kerugian operasional Honda mencapai 414,3 miliar yen (USD2,63 miliar) untuk tahun yang berakhir Maret, dibandingkan dengan estimasi median kerugian sebesar 315,6 miliar yen dalam survei terhadap 22 analis oleh LSEG, serta laba 1,2 triliun yen pada tahun sebelumnya.
(NIA DEVIYANA)