sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Indef Prediksi Harga Batu Bara Lanjutkan Tren Penurunan meski Pemerintah Pangkas RKAB 2026

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
25/01/2026 05:00 WIB
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan harga batu bara global masih berpotensi melanjutkan tren penurunan tahun ini.
Indef Prediksi Harga Batu Bara Lanjutkan Tren Penurunan meski Pemerintah Pangkas RKAB 2026. (Foto: Inews Media Group)
Indef Prediksi Harga Batu Bara Lanjutkan Tren Penurunan meski Pemerintah Pangkas RKAB 2026. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan harga batu bara global masih berpotensi melanjutkan tren penurunan tahun ini, meskipun pemerintah Indonesia telah memangkas target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batubara 2026.

Head of Centre of Industry, Trade, and Investment Indef, Andry Satrio Nugroho, menilai tekanan di pasar komoditas batu bara saat ini cukup kuat, didorong oleh lemahnya permintaan di negara tujuan utama ekspor seperti China dan India.

Produksi batu bara Indonesia pada 2025 turun menjadi sekitar 790 juta ton, lebih rendah sekitar 5–6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara ekspor turun hampir 8 persen karena permintaan global yang melemah.

"Kalau dari batu bara sendiri tentu kami melihat dari sisi permintaan, khususnya permintaan dari ekspor. Kalau kita bicara salah satu buyers kita, dari China dan India, ada arah penurunan, dan kecenderungan menurun," ujarnya dalam acara Indonesia Weekend Miner di Kawasan Senayan, Sabtu (24/1/2026).

Andry menekankan bahwa fenomena penurunan ekspor Indonesia sejalan dengan data tren permintaan global yang melambat. Permintaan batu bara dari China, sebagai pembeli terbesar, menurun karena peningkatan produksi domestik dan pergeseran kebijakan energi, sementara permintaan dari India juga mengalami kontraksi.

Menghadapi kondisi pasar batubbara yang melemah, Indef mendorong penguatan permintaan domestik melalui diversifikasi pemanfaatan batu bara dan peningkatan nilai tambah. Salah satu inisiatif adalah pengembangan proyek dimethyl ether (DME) yang direncanakan sebagai substitusi LPG berbasis batu bara serta pengembangan produk-produk turunan lain yang memberikan nilai tambah lebih tinggi

Andry menilai fokus pada pemanfaatan dalam negeri menjadi strategi penting karena permintaan global yang belum stabil. 

"Momentum tekanan harga ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat pasar domestik dan hilirisasi batubara," ujarnya.

Selain batu bara, Indef mencatat bahwa permintaan global terhadap mineral kritis seperti nikel relatif lebih kuat, seiring percepatan transisi energi hijau dan kebutuhan teknologi bersih. Berbeda dengan batu bara, harga nikel dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren kenaikan, yang mencerminkan diferensiasi pasar antar komoditas mineral.

Andry menekankan bahwa pengembangan hilirisasi mineral tersebut sekaligus dapat mendukung perekonomian nasional dan menciptakan produk ramah lingkungan.

Sebelumnya, Kementerian ESDM pada 2026 resmi memangkas produksi batu bara dalam negeri. Semula 790 juta ton produksi nasional pada 2025, dipangkas menjadi 600 juta ton untuk 2026. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement