AALI
8825
ABBA
234
ABDA
6025
ABMM
4360
ACES
625
ACST
204
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
760
ADMF
8400
ADMG
168
ADRO
3880
AGAR
302
AGII
2350
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
107
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
149
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1525
AKRA
1340
AKSI
320
ALDO
700
ALKA
288
ALMI
400
ALTO
171
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
532.43
-1.75%
-9.48
IHSG
7065.02
-1.58%
-113.57
LQ45
1008.50
-1.67%
-17.14
HSI
17927.82
-0.03%
-5.45
N225
26567.55
-2.16%
-586.28
NYSE
13796.99
-2.26%
-319.60
Kurs
HKD/IDR 1,914
USD/IDR 15,031
Emas
794,490 / gram

Inflasi Terus Melejit, Ekonomi Jepang Kian Tertekan

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Kamis, 18 Agustus 2022 11:26 WIB
Inflasi yang teus melejit membuat perekonomian Jepang kian mengalami tekanan.
Inflasi Terus Melejit, Ekonomi Jepang Kian Tertekan. (Foto: MNC Media)
Inflasi Terus Melejit, Ekonomi Jepang Kian Tertekan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Inflasi yang teus melejit membuat perekonomian Jepang kian mengalami tekanan. Apalagi, dari data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) masih menunjukkan tren kenaikkan dan melampaui target bank sentral.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (18/8/2022), harga konsumen diperkirakan naik hingga mencapai 2,4% pada Juli, ini belum termasuk harga makanan segar. Angka tersebut meningkat bila dibandingkan bulan lalu di angka 2,2%.

Kenaikan inflasi Jepang ini semakin jauh dari usaha Gubernur Haruhiko Kuroda yang tengah mempertahankan suku bunga terendah, demi mendukung pertumbuhan ekonomi. Kuroda masih berkeras melancarkan stimulus untuk memulihkan perekonomian.

Namun dengan laju kenaikan harga saat ini, nampaknya sulit untuk mempertahankan usaha Kuroda ini.

Kuroda beranggapan inflasi saat ini disebabkan oleh kenaikan harga komoditas yang bersifat sementara. Padahal para bank sentral di seluruh dunia berlomba menaikkan suku bunga untuk mengendalikan pertumbuhan harga.

"Sementara dampak harga energi akan mencapai puncaknya pada Juli atau Agustus, langkah untuk membebankan biaya bahan baku kepada konsumen jelas meningkat," kata kepala ekonom di Itochu Research Institute, Atsushi Takeda.

Atsushi menilai Bank of Japan (BOJ) mungkin tidak langsung menunjukkan kebijakannya, tetapi mereka akan segera melihat bahwa kondisi saat ini bukan hanya dorongan energi sementara.

Para ekonom pun banyak merevisi perkiraan inflasi mereka, seperti Citigroup dan SMBC Nikko yang memperkirakan indeks harga konsumen dapat naik hingga 3% atau bahkan lebih di tahun 2022 ini. Faktor tambahan lainnya yang berpotensi mendorong inflasi ialah dampak biaya seluler yang lebih murah di bulan Agustus dan Oktober.  

Meski begitu, Citigroup sendiri menilai bahwa inflasi yang tinggi saat ini tidak cukup mendorong BOJ untuk segera membuat perubahan kebijakan. 

Tetapi para ekonom memperkirakan pertumbuhan harga, yang terpisah dari dampak energi dan makanan segar, masih berada di angka 1,1% pada Juli, memberikan kepercayaan pada argumen bank sentral bahwa sebagian besar kenaikan masih didorong oleh energi. 

“Kami sebenarnya berada di ambang periode inflasi normal. Jika prospek harga, terutama untuk inflasi inti-inti, lebih tinggi dalam laporan Oktober, itu akan menjadi tanda bahwa pemikiran BOJ mungkin berubah." jelas Takeda dari Itochu Corporation melalui Bloomberg, Kamis (18/8/2022)

Takeda menyarankan agar BOJ segera melakukan pertemuan pada Oktober mendatang, untuk membuat perubahan kebijakan dan juga mengubah pandangannya untuk memperbarui perkiraan harga selanjutnya. (TYO/RIBKA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD