"Peminat terbesarnya terutama yang 10 tahun, di mana 52 persen yang subscribe dari bond kita adalah berasal dari Amerika Serikat," ujar Rosan Roeslani dalam keterangannya di Istana Negara Jakarta, Senin (15/6/2026).
Data distribusi pemodal menunjukkan pergeseran peta kekuatan investasi yang cukup signifikan dibandingkan penerbitan surat utang negara sebelumnya. Untuk tenor 5 tahun, investor asal AS menyerap 38 persen, disusul oleh gabungan investor Eropa dan Timur Tengah sebesar 41 persen, serta Asia 21 persen.
Sementara itu, pada tenor 10 tahun, dominasi AS kian tak terbendung dengan angka 52 persen, jauh mengungguli pasar Eropa dan Timur Tengah di posisi 31 persen, serta Asia yang hanya menyerap 17 persen.
Pencapaian ini dipandang luar biasa mengingat kondisi pasar modal domestik dan nilai tukar rupiah sebenarnya sedang berada dalam tekanan saat penawaran dilakukan.
Namun, Danantara memilih untuk tetap melangkah guna menguji daya tarik aset strategis Indonesia sekaligus mensosialisasikan berbagai kebijakan ekonomi positif yang telah diimplementasikan oleh pemerintah.