"Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi," ujar Suahasil.
Capaian positif pasar SBN tersebut berlangsung di tengah tingginya tantangan ekonomi global, terutama eskalasi konflik geopolitik serta kecenderungan kebijakan moneter ketat di negara-negara maju.
KSSK menyoroti lonjakan harga energi dunia akibat dinamika di Timur Tengah, serta tingginya yield US Treasury yang didorong oleh ekspektasi suku bunga dan besarnya defisit anggaran AS.
Faktor-faktor eksternal tersebut berpotensi menahan laju aliran modal asing ke negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, mengingat preferensi investor global yang cenderung terbatas terhadap aset berisiko.
“Perkembangan ini akan terus kami pantau dan kami mitigasi dampaknya,” kata Suahasil.