AALI
12325
ABBA
196
ABDA
0
ABMM
3060
ACES
995
ACST
161
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
655
ADMF
8075
ADMG
180
ADRO
3150
AGAR
330
AGII
2010
AGRO
935
AGRO-R
0
AGRS
126
AHAP
62
AIMS
232
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
925
AKRA
1005
AKSI
224
ALDO
900
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
208
Market Watch
Last updated : 2022/05/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.20
-1.33%
-7.19
IHSG
6840.78
-1.12%
-77.37
LQ45
1002.57
-1.24%
-12.61
HSI
20470.06
-1.19%
-247.18
N225
27001.52
0.98%
+262.49
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,169 / gram

Isu Data Pasien di Kemenkes Dibobol Hacker, Pakar Siber Buka Suara

ECONOMICS
Intan Rakhmayanti Dewi
Jum'at, 07 Januari 2022 10:26 WIB
Pakar siber beri penjelasan soal dugaan data pasien kesehatan Indonesia milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang diretas.
Isu Data Pasien di Kemenkes Dibobol Hacker, Pakar Siber Buka Suara (Dok.MNC Media)
Isu Data Pasien di Kemenkes Dibobol Hacker, Pakar Siber Buka Suara (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Dugaan kasus kebocoran data kembali terjadi di awal tahun 2022. Kali ini terjadi pada data pasien kesehatan Indonesia milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menurut pakar keamanan siber Pratama Persadha, jika dilihat pada sampel data yang diberikan sebesar 3.26 GB dengan nama file "sample medic" maka kebocoran ini valid dan benar terjadi.

Terlebih lagi, banyak juga foto - foto yang ada di file sample tersebut terpampang secara tidak etis.

Dari foto itu, kemungkinan sebagian besar seperti korban kecelakaan, ataupun penyakit keras tapi kemungkinan memang bukan pasien yang terkena Covid-19.

Lebih lanjut, Pratama menjelaskan kejadian ini bermula pada 5 Januari 2022, peretas menjual dan membocorkan sebagian dari 720 GB data rekam medis masyarakat dari berbagai rumah sakit di Indonesia, yang dijual di internet oleh peretas di forum Raidforums yaitu dengan nama id "Astarte".

Peretas mengaku bahwa data tersebut bersumber dari server pusat Kementerian Kesehatan RI dan juga dikabarkan bahwa data diambil terakhir pada 28 Desember 2021.

"Namun sampai saat ini belum dipastikan bahwa data bocor tersebut pasti berasal dari data Kemenkes, karena hanya pihak Kemenkes dan BSSN sendiri yang bisa menentukan," ujar Pratama dalam pesan singkat.

Kendati demikian, masih perlu dilakukan forensik digital untuk mengetahui celah keamanan mana yang dipakai, apakah dari sisi SQL (Structured Query Language) sehingga diekspos SQL Injection atau ada celah keamanan lain. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD