AALI
8525
ABBA
580
ABDA
0
ABMM
1480
ACES
1350
ACST
250
ACST-R
0
ADES
2940
ADHI
880
ADMF
7675
ADMG
220
ADRO
1335
AGAR
370
AGII
1300
AGRO
2390
AGRO-R
0
AGRS
254
AHAP
63
AIMS
344
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3880
AKSI
430
ALDO
720
ALKA
238
ALMI
242
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
459.02
0.03%
+0.16
IHSG
6133.25
0.38%
+23.30
LQ45
862.44
-0.03%
-0.26
HSI
24920.76
1.03%
+252.91
N225
30500.05
0.58%
+176.71
NYSE
16576.77
-0.3%
-50.11
Kurs
HKD/IDR 1,825
USD/IDR 14,220
Emas
805,205 / gram

Jabar Rawan Bencana, Masyarakat Diimbau Antisipasi La Nina Akhir Tahun Ini

ECONOMICS
Agung bakti sarasa
Rabu, 15 September 2021 12:43 WIB
Masyarakat Jawa Barat diimbau waspada menghadapi berbagai potensi bencana alam akibat dampak fenomena La Nina. 
Jabar Rawan Bencana, Masyarakat Diimbau Antisipasi La Nina Akhir Tahun Ini (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Warga Jawa Barat diimbau menyiapkan langkah antisipasi guna menghadapi berbagai potensi bencana alam akibat dampak fenomena La Nina

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Dani Ramdan mengatakan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofosika (BMKG) memprediksi La Nina akan muncul pada akhir 2021 mendatang. 

Dani menegaskan, antisipasi bencana harus menggunakan paradigma baru, yakni  mengurangi risiko bencana dengan mitigasi dan bukan lagi pada penanggulangan pascabencana. 

"Pengurangan risiko bencana itu lebih menekankan kepada upaya-upaya pencegahan terjadinya bencana. Jadi, segala upaya yang dilakukan prabencana seperti pelestarian lingkungan," kata Dani, Rabu (15/9/2021). 

Menurutnya, lebih dari 90 persen bencana yang terjadi di bumi berakar pada kerusakan alam. Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukan adalah melestarikan alam. 

"Upayanya adalah mencoba menyeimbangkan kembali antara kebutuhan manusia yang bersumber dari alam dengan pelestarian alam. Artinya, manusia boleh mengeksplotiasi alam untuk kebutuhannya, tetapi tetap harus dibarengi dengan pelestarian," jelas Dani. 

Dia menyebut, sebagian besar bencana alam yang terjadi di Jabar adalah bencana hidrologi atau selalu berkaitan dengan air, seperti banjir, tanah longsor, tanah bergerak, bahkan tsunami. 

"Bencana yang terjadi akibat air tidak lagi bisa ditahan karena pohon-pohon semakin berkurang," sebutnya. 

Terlebih, lanjut Dani, musim kemarau saat ini disebut kemarau basah. Artinya, tetap membawa potensi hujan ringan, sedang, hingga besar. Dalam prediksi BMKG terkait La Nina pun, kata Dani, disebutkan bahwa musim kemarau cenderung basah yang artinya intensitas hujan akan naik 40-80 persen. 

Dengan kondisi tersebut, Dani kembali menekankan bahwa sebagai daerah rawan bencana, Jabar harus bersiap menghadapi bencana alam selain tetap mewaspadai bencana non-alam, yakni wabah penyakit akibat COVID-19. 

"Kita sudah mengantisipasi dengan berbagai langkah, di antaranya penyiapan SDM (sumber daya manusia), terutama di kabupaten/kota, penyiapan alat, dan penyiapan mitigasi termasuk logistik. Titik beratnya ada di BPBD kabupaten/kota," terangnya. 

Lebih lanjut Dani menerangkan bahwa berdasarkan peta potensi bencana, hampir semua daerah di Jabar memiliki potensi bencana yang ditandai dengan warna merah.

"Terutama di daerah non-perkotaan, hampir semua warnanya merah. Di daerah-daerah merah itulah kita antisipasi dengan kesiagaan bencana," katanya. 

Seperti diketahui, Jabar kini tengah menyiapkan diri menjadi provinsi berbudaya tangguh bencana yang dituangkan ke dalam konsep Jabar Resiliance Culture Province (JRCP) yang penyusunan cetak birunya melibatkan semua stakeholders. 

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil pun telah menyusun konsep JRCP yang mencakup pendidikan masyarakat dan preventif bencana, pendidikan di sekolah, infrastruktur pengendali, penguatan kelembagaan pemerintah mencakup regulasi, dan pembangunan berkelanjutan 3P atau planet-people-profit, serta anggaran.  

(IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD