Selain isu kelembagaan ekspor, Airlangga merespons secara mendalam terkait fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS yang kembali memecahkan rekor terendah di kisaran Rp17.706 per USD pada sore hari ini.
Airlangga juga menepis anggapan bahwa kejatuhan mata uang Garuda ini murni disebabkan oleh sentimen domestik, termasuk efek psikologis pasar pasca-pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai penggunaan dolar di desa.
Menurutnya, ada kombinasi berat antara tekanan eksternal dan siklus tingginya permintaan valas di dalam negeri secara musiman.
"Faktor global juga sangat memengaruhi. Dan seperti yang saya sampaikan, selama bulan ibadah haji ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Terus kedua, sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan kan juga di bulan-bulan ini," ujar Airlangga.
Siklus tingginya permintaan valas internal tersebut semakin diperberat oleh faktor eksternal, di mana harga komoditas energi global yang masih melonjak ikut membebani struktur pembayaran nasional.
"Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik, sehingga tentu ini faktor eksternalnya sangat kuat," katanya.
Meski situasi pasar keuangan dan nilai tukar tengah dikepung sentimen negatif yang kuat pada kuartal kedua ini, Airlangga optimistis situasi akan berbalik melandai seiring bergantinya siklus perekonomian.
"Mudah-mudahan semester II-2026 bisa lebih baik lagi," katanya.
(Dhera Arizona)