IDXChannel - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menekankan langkah pemerintah untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Satu di antaranya adalah perluasan akses pasar melalui berbagai perjanjian dagang Indonesia dengan berbagai negara mitra, tak terkecuali Jepang.
Teranyar, perwakilan principal Denso Global dan Denso Group Indonesia (Denso) yang menjadi salah satu pemasok komponen otomotif asal Jepang menjajaki inisiasi kerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag).
Dalam forum terbatas pada Kamis (16/7/2026) tersebut, President Commissioner Denso International Pte Ltd, Hisashi Yanase dan Mendag Budi memiliki satu frekuensi soal forum ini menjadi awal dari upaya peningkatan daya saing z.
Pemerintah lantas mendorong pelaku usaha di sektor manufaktur, termasuk perusahaan yang berinvestasi di Indonesia, untuk memanfaatkan perjanjian dagang tersebut. Budi menitikberatkan soal kerja sama saling menguntungkan dengan grup besar seperti Denso menjadi pilar penting bagi Indonesia untuk penguatan industri manufaktur dalam negeri.
“Kami dorong pelaku usaha di sektor manufaktur, termasuk perusahaan yang berinvestasi di Indonesia seperti Denso Group Indonesia, untuk memanfaatkan berbagai perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia. Pelaku usaha bisa mendapatkan tarif yang lebih kompetitif di pasar negara tujuan ekspor. Indonesia mempunyai 20 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan, 15 lagi dalam proses ratifikasi, dan 11 lainnya sedang dinegosiasikan,” ujar Budi dalam keterangan resmi, yang dikutip Jumat (17/7/2026).
Hisashi Yanase menjelaskan, sejumlah masukan untuk semakin meningkatkan daya saing Indonesia. Mulai dari penyederhanaan administrasi dan penguatan infrastruktur yang mendukung kelancaran kegiatan ekspor.
Seturut itu, Budi menjelaskan, Kemendag bakal menyederhanakan administrasi perdagangan melalui inisiasi otomatisasi pemanfaatan Surat keterangan Asal (SKA) preferensi melalui pengembangan sistem elektronik Surat keterangan Asal (e-SKA).
Melalui sistem tersebut, pelaku usaha yang akan mengekspor barang ke negara yang telah memiliki perjanjian dagang dengan Indonesia akan secara otomatis diarahkan untuk memanfaatkan fasilitas tarif preferensi yang tersedia.
Dengan begitu, peluang pemanfaatan perjanjian dagang dapat menjadi lebih optimal. Saat ini otomatisasi SKA berlaku untuk ekspor ke Uni Emirat Arab, Hongkong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.
“Sistem di SKA Indonesia sudah dibuat otomatis. Ketika pelaku usaha mengekspor ke negara yang sudah mempunyai perjanjian dagang dengan Indonesia, sistem akan langsung mengarahkan agar fasilitas tarif preferensi dapat dimanfaatkan,” kata Budi.
Kemendag, kata Budi, bakal juga berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Koordinasi ini penting demi membantu menyelesaikan berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk dalam hal logistik.
“Setiap kendala yang dihadapi pelaku usaha di lapangan perlu dikomunikasikan. Dengan begitu, dapat segera kami tindak lanjuti bersama kementerian dan lembaga terkait," kata Budi.
"Kami berkomitmen menghadirkan solusi yang mendukung kelancaran ekspor dan menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif,” ujar dia.
Menukil pendataan GIAMM sepanjang 2025, industri komponen otomotif nasional telah mampu ekspor dengan nilai ekonomi mencapai USD 7 miliar. Nilai itu didapat dari hasil ekspor ke lebih dari 100 negara, dengan negara-negara tujuan utama mulai dari kawasan Asia Tenggara, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
(Dhera Arizona)