Nilai ekspor sektor ini mencapai sekitar USD47,95 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 6,71 juta orang. Subsektor tekstil dan pakaian jadi sendiri tumbuh sekitar 5,39 persen dan menyerap lebih dari 3,7 juta tenaga kerja.
“Pertumbuhan angka tersebut menunjukkan peran strategis sektor IKFT sebagai industri padat karya yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujar Menperin.
Sementara itu, industri tekstil dan produk tekstil secara khusus juga menunjukkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan sekitar 4,64 persen. Kinerja ekspor sektor TPT terus meningkat meski di tengah dinamika perdagangan global, yang mencerminkan daya saing industri nasional masih terjaga.
Agus menegaskan, industri TPT, alas kaki, serta kosmetik merupakan sektor padat karya yang memiliki efek berganda besar terhadap perekonomian, karena melibatkan rantai pasok yang panjang mulai dari bahan baku, produksi, distribusi, hingga perdagangan ritel.
Selain produk sandang, peningkatan konsumsi juga terjadi pada produk penunjang penampilan, termasuk kosmetik dan perawatan diri. Hingga akhir periode 2024, kontribusi industri kosmetik mengalami pertumbuhan sebesar 4,3 persen dan kinerja ekspor mencapai USD382,4 juta.